Tuesday, 4 February 2014

Episode cinta #5


       Yuli. Adalah cewek manis berkulit sao matang. Yuli adalah pacar kedua gue. Dan lo tau mas & mbak bro, lagi-lagi pacar gue adalah bekas dari orang terdekat gue. Rengga adalah teman dekat gue sejak gue SD dulu. Kita selalu ngerjain tugas bareng, nyontek bareng, bahkan dihukum juga bareng. Pernah ada suatu kejadian, rengga di cium oleh bu Doer –sebutan kami untuk istri pak junaidi- karena gak bisa menuntaskan perkalian tujuh. Karena matematika adalah pelajaran yang keramat buat gue, jadi gue gak bisa ngasi contekan buat dia. Dan itu adalah hal yang paling memalukan buat rengga.
Awalnya gue kenal Yuli karena Yuli adalah sahabat sekaligus tetangga Shenna. Selain nongkrong di rumah Shenna, gue juga sering nongkrong di rumah Yuli. Jadi kita sudah gak saling canggung lagi satu sama lain. Malahan, kita bisa lebih dekat dari sebelumnya setelah jadian -ya iya lah, namanya juga pacaran-. Kita selalu telponan tiap hari. SMS-an juga. Sampai-sampai lupa waktu makan, minum. Tapi ada satu yang gak bisa gue lupain walaupun sedang asik-asiknya telponan atau sms-an sama yuli. Itu adalah waktu dimana gue sedang sakit perut dan pengen pupup. Itu yang gak bisa gue tahan sama sekali.
Sekedar anekhdot ditengah cerita gue :
Apa yang paling cepat di dunia...? | pasti mobil F1, cahaya (karena sekali di cetek saklar, lampu langsung hidup), suara, getaran | lo salah semua, yang paling cepat itu kalau orang sedang sakit perut dan pengen pupup. Karena dia gak butuh mobil F1, gak butuh cahaya, gak butuh suara, dan gak butuh getaran. Yang dia butuh cuma kloset doang.
Yuli sering banget cerita tentang pengalaman dia pacaran dengan rengga. Mulai dari kenalan, jalan bareng, sampai pengalaman –ya lo tau lah, anak muda-. Jangan ngeres dulu, itu pengalaman rekreasi di kolam renang doang. Semua tentang mereka di jadikan celoteh malam oleh Yuli. Dan itu membuat gue bosan. Gue mulai gerah dengan dia yang jadi-in gue sebagai (cuma) pendengar budiman atas semua cerita basi itu. Bagaimana gak basi, itu cerita kan udah dia lewati semua. Dan itu juga ga akan terjadi di hubungan kita. 36 kilometer terbentang di atas hubungan ini.
Hari dimana kita harus :
“sayang, aku mau bicara sesuatu, ini serius” ucap gue
“apa?” tanya Yuli
“Itu tentang hubungan kita”
“ada apa dengan hubungan kita? Ada yang salah?”
“se...” ucap ku gagap. gue takut ini menyakiti hatinya. Karena bukan gue jika gue harus menyakiti hati wanita.
“se... apaan, yang jelas dong ngomongnya, tadi katanya serius,?”
“sepertinya, kita... ga cocok deh” ucap gue pelan
“ga cocok gimana? Maksud kamu, mau putus gitu...?”
“aku ga ada maksud seperti itu, tapi sepertinya kamu ada benarnya juga. Aku mau kita putus”. Kata gue dengan serius. Namun yuli hanya tertawa.
“hahaha... aku udah menduga itu dari awal” jawab yuli sambil tertawa
“yaudah deh, kalau kamu maunya itu” sambungnya lagi sambil memutuskan panggilan telepon gue.
 putus adalah hari paling gak menyenangkan buat gue. Karena hari itu juga gue harus pulang ke kampung. Bukan karena kampungnya yang kumuh, padat, atau apalah namanya. Itu karena dikampung, gue harus jumpa dengan Rengga. Gue ngerasa bersalah banget karena udah nerima Yuli jadi pacar gue. Padahal rengga sangat mencintai Yuli. Terbesit di benak gue, “gue harus minta maaf ke rengga”. Dan gue langsung menjumpai dia. Ketika berjumpa dengan rengga, gue beranikan diri buat nanya ke dia. “ngga, boleh jujur?” tanya gue. “yaudah, jujur aja, lo mau bilang apa?”. Kaki gue tiba-tiba bergetar, dan dari pernyataannya itu, gue narik satu kesimpulan bahwa rengga gak tau apa yang udah gue lakuin. “gue... gue mau beli mata pancing ni, temeni yuk?”. Alibi gue mulai kambuh. “ooh, gue kira apaan tadi, yaudah, yuuk...”. dan hati gue berkata “amaaannn, ternyata rengga gak tau”. Persahabatan gue dan rengga hingga kini masih adem ayem tentrem. Dan soal Yuli, aahhh, itu cuma masalalu.

Monday, 3 February 2014

aku

 Oleh : Nuriza Auliatami


yang terang dan gelap adalah aku
yang jauh dan dekat adalah aku.
yang pergi dan pulang adalah aku
yang berbicara dan diam adalah aku.
yang benar dan salah adalah aku
yang baik dan buruk adalah aku
yang cinta dan benci adalah aku
yang ada dan tiada adalah aku.

aku hanyalah sebuah kehampaan tak berujung.
aku hanyalah sebuah keberadaan tak berujung.
aku berawal dan berakhir di titik.
aku ada kau tiada
kau ada aku tiada
kau aku ada
kau aku tiada
aku ada
kau ada
aku ada
aku ada.

jangan lirik, aku dibelakangmu.
lirik, aku dibelakangmu.

sekali waktu kau hanya akan dipusingkan dengan "aku dibelakangmu".
berkali waktu kau akan paham "aku ada dimana mata itu memandang"
pandanglah aku
pandanglah ak
pandanglah a
pandanglah
pandangla
pandangl
pandang
pandan
panda
pand
pan
pa
p
.
.
.
.
.
.
.
.
.

-za-

Sunday, 2 February 2014

episode cinta #4


      Cewek itu memang makhluk paling abstrak di dunia ini. gimana enggak, dalam waktu sepersekian detik, dia bisa berubah begitu aja. berubah jadi poweranger, spongebob, upin ipin, sampai berubah jadi ibu-ibu PKK. tapi itu yang membuat laki-laki menyukai seorang wanita. dan mungkin, itu sebabnya gue memulai cerita baru dengan Shenna. Gue gak tau nama panjangnya apa, yang gue tau cuma nama cewek bertubuh seksi itu adalah Shenna. Ada yang unik dari kedekatan gue dengan shenna. Awalnya, pada sabtu malam sepupu gue Pani mengajak gue buat main-main ke rumah pacarnya. Katanya ketimbang gue bengong dirumah, bagusan gue ikut dengan dia. Katanya lagi, disana banyak cewek cewek cantik berkeliaran di sekitar teras rumah pacacnya Pani. Dan lo tau mas bro, pacarnya Pani adalah Shenna.
“Hai sayang” sapa Pani sambil mengecup keningnya.
“Hai juga sayang, kamu apa kabar” jawab Shenna menggoda.
“ya seperti yang kamu lihat sayang” jawab Pani.
Diselah pembicaraan mereka, Shenna melirik ke arah gue. Dan gue yakin, lo juga tau gimana rasanya dilirik sama cewek bohai -mendiring bulu jaketku-. Ditambah lagi, dia nanya gini ke Pani “Cowok cakep mana tuh yang kamu bawa?”. Eeuuuhhh... rasanya mas bro, pengen gue guling-guling ditanah kesenangan dibilang cakep sama cewek bohai itu. Tapi gue tetap jaga gaya cool gue didepan dia.
“ini...? ohh, ini sepupu aku sayang. Tadi aku lihat dia bengong di rumah, jadi aku ajak aja kesini.”
“oohhh, yaudah, kok ga dikenalin ke aku sayang...?”
Aduh mas bro... ga bisa di ungkapkan dengan kata kata deh. –maaf ya mbak bro, urusan cowok, mbak bro duduk manis dengerin cerita kita aja dulu-. Apalagi waktu di kenalin ke gue, “hai, Shenna” tangannya itu lembut banget mas bro. jarang-jarang gue bisa megang tangan cewek selembut ini. Gue hanya bisa terdiam dan menikmati fantasi-fantasi yang hadir di awang-awang gue. “Takkkk” suara tepukan tangan Pani ke pundak gue.
“Udah dong, jangan lama-lama. Nanti naksir pula kau sama pacar aku” ucap Pani.
Gue cuma bisa terus senyum sambil melirik cewek-cewek yang sedang berkeliaran di teras rumah Shenna. Pani ga bohong, memang cewek-cewek disini pada cantik dan bohai semua. Tapi, jika di dikumpulin semua cewek disitu, tetap Shenna yang memegang peringkat satu atas penghargaan keseksian dan kebohaian yang dimilikinya.
Akhirnya setiap malam minggu, gue minta ikutan ke rumah Shenna untuk nyari pacar. Dan tetap, hati gue gak bisa bohong kalau gue tetap milih Shenna walau Shenna adalah pacar sepupu gue. Satu bulan penuh, malam minggu gue habiskan di rumah Shenna, dan gue gak nyangka bahwa ini akan berakhir tragis buat Pani. Mereka putus dengan masalah yang GAJE alias gak jelas tepat di minggu ke empat gue datang ke rumah Shenna. Awalnya gue nganggap ini adalah suatu musibah. Tapi tiga hari setelah mereka putus, Shenna langsung SMS gue. Dalam hati gue bertanya-tanya “ada apa si bohai sms gue”. Ternyata setelah gue buka, dia nyuruh gue datang ke rumahnya buat jadi teman curhatnya. Selama satu minggu gue jadi pendengar budiman pribadinya tanpa ada satu patahan kata yang ngebantah perkataan dia. Dan tepat di satu minggu dia curhat ke gue, gue langsung beranikan diri gue buat bilang “Shen, aku suka sama kamu”. Shenna tiba-tiba terdiam terpaku. Gue sangka dia bakalan marah ke gue karena gue lancang ngungkapin perasaan gue. Tapi dia malah jawab “ia, aku mau jadi pacar kamu”. Dalam hati gue bilang gini  “Ini cewek kapan gue nembak dia sih?”. Tapi gak masalah, memang ini maunya gue kok. Dan hari itu kita jadian, dia adalah pacar pertama gue. Beruntung banget rasanya dapat cewek bohai seperti dia. Tapi gue samasekali ga pernah ngelakuin apa-apa dengan dia –ngerti lah-. Paling hebat, Cuma pegang tangan doang. Tiap hari gue jumpa dengan dia di rumahnya, tanpa kenal waktu, cuaca, dan keadaan kantong. Tapi ini gak berlangsung lama. Gue harus ngelanjutin sekolah gue ke luar kota. Dan Shenna ngerespond baik niat gue untuk sekolah di luar kota. Dan kita sepakat buat ngejalanin yang namanya Long Distern Relationship yang biasa disebutin anak-anak muda LDR. Awal kita ngejalani hal itu terasa nyesek banget. Tapi seminggu-duaminggu kita mulai terbiasa dengan dunia baru kita masing-masing. Kita tetap menjalin hubungan ini dengan baik. Hingga bulan ke dua kita pacaran, gue dapat kabar bahwa dia sudah punya pacar baru disana. Itu lebih dari nyesek buat gue. Lo tau kan mas bro, mbak bro, gimana rasanya kalau kita punya pacar pertama, terus dia khianati kita lagi. Tapi gue udah kebal dengan yang namanya pengkhianatan. Gue juga gak mau kalah dengan Shenna. Diam-diam, gue juga udah ngelirik cewek baru di kota ini. Seminggu kemudian, gue terus buat kesalahan-kesalahan dengan melakukan hal-hal yang tidak disukai oleh Shenna supaya gue diputusin. Dan akhirnya dia minta putus. Itu terhormat banget buat gue mas bro, mbak bro. gue lebih memilih diputusin cewek daripada harus gue yang mutusin tu cewek. Karena gue tau, cewek itu kalau diputusin pasti sakit hatinya membekas banget. Gue tetap mau jaga perasaan cewek karena gue sadar, gue juga dilahirkan oleh seorang wanita juga. Jadi gue lebih memilih untuk disakiti daripada gue harus menyakiti. Itu adalah sesuatu hal yang bijak buat gue. Gue coba move on dari semua hal yang berkaitan dengan yang namanya Shenna. Termasuk ke-bohai-an. Dan gue mulai melirik tetangga gue di kota baru gue itu. Tapi itu semua gak berjalan dengan sempurna. Malah gue jadian sama...



to be continue...

Saturday, 1 February 2014

Episode Cinta #3


Jatuh cinta memang kadang terasa menyebalkan. Apalagi kalau itu sekedar cinta yang dialami oleh dua monyet tak berekor dengan pakaian putih merah. kita selalu jadi korban bully. mulai dari orang tua yang bilang : Eh, masih kecil...!
sampai orang-orang dewasa yang ngebully dengan cara yang menyakitkan : "Ciee, Cinta monyet"
apaan coba yang lucu. ini kan cinta, gak pernah memandang pada siapa dan kapan akan menyerang hati dengan virus merah jambunya. lagian, kita kan manusia, bukan monyet.

cinta memberikan gue banyak kisah. cinta juga mengajarkan gue bahwa gue pernah dibilang monyet. kalau di filmkan, mungkin judul film yang tepat adalah : CINTA DUA MONYET TAK BEREKOR.
dan cinta juga membuat gue memilih untuk melirik ke arah W
idya.
Widya Ramanda. Cewek manis anak seorang Komandan Polisi Hutan dengan lesung pipit di kedua pipinya, dan senyuman manis disetiap hari yang ia bawa ke kelas kami, 3-4. kelas ini adalah Kelas “Keramat” bagi para guru. Memang nasib gue kali ya mas bro, selalu terdampar di kelas yang angker. Sangkin angkernya, kami punya Kuntilanak Boneng yang duduk di sudut kelas. Kami menyebutnya dengan nama “Bebek”. Nama itu dinobatkan oleh sesepuh kelas kami, Rozi. Dia adalah siswa paling sok cool di kelas kami. Tapi, gue tetap salut terhadap prestasi yang dicapainya dibidang sepakbola.
Hari hari gue kembali seperti dulu. Gue kembali rajin datang ke sekolah, dan rajin belajar. Ini adalah efek positif yang selalu gue dapat kalau gue suka sama satu orang cewek di daerah sekolahan. Pendekatan gue dengan Widya juga udah makin-makin. Apa lagi setiap pembagian kelompok belajar, dia selalu milih kelompok gue. Semua hari gue terasa begitu indah, kecuali hari minggu. Karena pada hari minggu kita libur. Dan kita pasti ga bakalan jumpa. Jarak antara rumah gue dan rumah Widya itu seperti Bumi dan Matahari. Dan efek dari jauhnya jarak yang terbentang diantara kita adalah “GALAU”. Sumpah, Minggu adalah waktu yang paling ngebosenin buat gue. Gue Cuma bisa ngisi waktu minggu gue dengan menonton TV dengan siaran yang ga pernah jelas kemana arah ceritanya, seharian. Untung saja ada Doraemon yang selalu nemeni hari galau gue. Gue suka film doraemon karena gue selalu bisa ngebayangi kalau Nobita adalah Gue. Dia selalu galau seperti gue kalau udah hari minggu. Karena galaunya melebihi gue, jadi gue bias ngerasa sedikit nyaman dengan hari minggu. Tapi, kalau film nya udah selesai, gue kembali galau.
Suatu pagi di hari rabu, kami kedatangan teman baru di lingkungan kelas ini. Adalah Pratama Putra Atlanta, seorang cowok yang lumayan tampan, walau sebenarnya gue lebih tampan dari dia. Anak pindahan dari SMP Percontohan itu secara aktif berinteraksi dengan gue. Dan akhirnya, dia menjadi teman terdekat gue. Hari-hari yang indah ini kami jalani bersama. Main bersama, belajar bersama, bahkan nyontek bersama. Kami sahabat bagai kepompong, mengubah ulat menjadi kupu-kupu. Sampai suatu saat, dia ikut didalam kelompok belajar gue dan widya. Awalnya sih lancar, namun akhirnya, gue terbakar. Bukan, bukan terbakar api, tapi terbakar cemburu. Coba deh lo bayangin mas bro, kalau kita suka sama cewek, dekat, dan sedikit lagi hampir jadian, tapi teman dekat kita sendiri yang selalu bareng sama kita, menghianati kita. Emosi banget gue saat dengar tuh anak manggil widya dengan sebutan “sayang” di depan muka gue. Rasanya itu pengen gue mutilasi, terus gue jadiin sop daging cincang potongan tubuhnya itu. Tapi apalah daya tubuh ini, hanya bisa menerima keadaan dan pilihan yang dipilih oleh Widya. Gue Cuma bisa berdo’a semoga mereka tenang di alam nya. Gue tetap menjadi profesional sebagai teman dan sahabat mereka walaupun hati ini telah disakiti. rasa sakit mengajarkan gue untuk tidak menyakiti orang lain. karena sumpah men, itu sakit banget. melebihi sakitnya kalau hidung sedang terkena flu.
lagian, apa artinya dendam? toh widya nya juga gak bakalan ngelirik gue.cukup muove on, dan lakukan yang terbaik. apa susahnya coba move on?


to be continue...

Episeode cinta #2

#Episode Kedua
       Dia adalah Mentari. Cukup Mentari, namanya tak lebih dari itu. Mentari adalah seorang cewek anggun berkulit putih dan berkacamata dengan takaran -3 disetiap sisi matanya. Kacamata yang digunakannya itu menambah keyakinan atas diri gue bahwa dia benar-benar pintar. Dia adalah teman SMP gue sejak kami diterima di kelas 1-1 sampai akhirnya kita berpisah waktu kenaikan kelas. Gue masuk di kelas 2-4, sedangkan dia, masuk ke kelas 2-1, kelas inti. Bukan berarti masuk 2-4 gue ga pinter ya mas bro, mbak bro. Cuma saat itu mungkin taraf keberuntungan gue lagi berkurang. Jadi gue masuk di kelas angker. Para guru menyebut kelas kami sebagai kelas buangan. Karena didalamnya berkumpul 23 anak bandel, ditambah dua culun bahagia yaitu gue dan Ono Harto. Setelah tamat SD, kita berhasil masuk ke SMP favorit semua manusia setengah remaja alias anak SD yang lagi ngerayain tamatannya. Gue tamat dengan nilai diatas standart rata-rata.
Pertama masuk kelas, Cuma satu yang gue cari mas bro. “cewek cantik”. Dan yang pertama kali gue liat itu adalah Ramadhayani. Cewek yang ga cantik-cantik amat, tapi dia andalan para guru ketika dalam pelajaran matematika. Tapi, setelah lama gue mandangi Ramadhayani, gue ngerasa ada sesuatu yang ditutupi oleh tubuh padatnya. Waktu itu alibi gue keluar tanpa kompromi. “Ramadhayani, kamu tadi dicariin sama senior. Katanya sih, kakak kelas kamu waktu di SD sih.” Ucap gue santai, sambil menunggu reaksi dari ramadhayani buat pindah dari tempat duduknya.
“siapa za? Sekarang dimana dia?” jawabnya penasaran.
Dalam hati gue bilang gini. “ yess, berhasil-berhasil-berhasil horee...!” sambil pake gaya dora ngerangkul monyetnya Boots. “tadi diluar, samperin gih” ucap gue semangat.
Tanpa sabar, tubuh ini bergetar seperti pesawat ketabrak awan mas bro, mbak bro. dalam hati, gue ngitung kepergian ramadhayani ke luar kelas. Target gue sih, hitungannya Cuma sampe 10. Tapi, dia baru keluar dari kelas setelah hitungan gue yang ke 999. tapi ga apa-apa. Akhirnya penantian panjang gue buat ngeliat siapa yang di belakang tubuh gede ramadhayani terjawab sudah. Dia adalah bidadari pagi yang berbulu kacamata lentik. Eh, maksud gue berbulu mata lentik dan berkacamata. Kulit nya itu mas bro, eeeuuuhhh, kalau kata temen gue, Iqbal ni ya, sembriwinggg... nampaknya lembut banget. Gue terus terusan terkagum melihat wajahnya yang ayu. Sampai-sampai, gue ga sadar kalau semua teman-teman ditambah pak guntur, guru geografi sekaligus walikelas sedang memperhatikan gue yang sedang memperhatikan mentari. “tookkk”. Tiba-tiba pengamatan dan khayalan gue tentang dia buyar gitu aja. Seperti dihancurin di mesin penggiling padi dan dibalut dengan kue gulung buatan mamanya helmi, ketua kelas kami. Gimana ga buyar coba, penghapus punya pak guntur tiba-tiba mentok di kepala gue. Dan akhirnya, kepala gue ditumbuhi gunung sebiji. Gue namai itu sebagai Gunung guntur. Karena, yang nyiptain gunung di kepala gue itu pak guntur. Rasanya itu mas bro, mbak bro, ga kebayang deh. Coba aja pada saat itu gue dibolehin untuk ngebalas semua jasa-jasa pak guntur dalam membuat gunung di kepala gue, pasti gue bakal ngasi lebih untuk dia. Tapi gue tetap ingat, gue harus menghargai dia sebagai guru gue. Walaupun berkali-kali, tangannya yang sebesar pisang raja digoreng dan penghapusnya yang mengunakan kecepatan suara tercepat didunia sering mampir di kepala gue. Gue tetap ngasi pengertian gue ke dia, yang notabenenya, dia adalah guru favorit Mentari. Kalau aja bukan karena dia, udah gue pites tu orang kaya kutu. Dan kalau aja pak guntur juga ngerasain apa yang gue rasain terhadap Mentari, pasti dia bakalan nangis, terharu, minta maaf ke gue sambil ngomong “Ampun tuann”. Tapi semua kejadian itu ga sia-sia. Bener kata pepatah, “setiap kejadian yang kita alami itu pasti menuai hikmah dibaliknya”. Dan hikmah yang gue dapat dari kejadian itu ialah, gue bisa ngelihat Mentari tersenyum kepada gue. Itu sebuah taste awal yang ga mungkin bisa gue lupain. Dan senyuman itu gue jadiin spirit buat gue biar bisa semangat belajar. Alhasil, tiap pagi, gue adalah orang pertama yang datang ke sekolah. Pertama banget. Sampai-sampai, jangkrik masih belum siap nyingkirin suara anggunnya untuk ngelepas malam.
suatu hari, pada bulan Agustus tanggal 8 tahun 2006, sekolah kami mengadakan berbagai macam perlombaan untuk menyambut hari kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus. Mulai dari lomba main kelereng, main karet, sampai lomba makan kerupuk juga di adakan di sekolah kami. Gue adalah salah satu peserta dari perlombaan yang diadakan oleh pihak sekolah. Main kelereng? Bukan, main karet? Bukan, makan kerupuk? Bukan juga. Gue ngikutin lomba yang lebih berkelas dari itu. Lomba melukis. Gue perwakilan dari kelas 1-1 buat ngikuti lomba ini. Awalnya gue juga ga mau. Malah, sedikitpun ga punya minat buat ngikutin lomba-lomba yang begituan. Tapi, karena dipaksa oleh bidadari pagi gue, akhirnya gue maksain diri buat ngikutin lomba itu. Dia adalah sumber inspirasi gue. Gue ngelukis sedemikian indahnya cuma karena dia. Hari itu dia adalah segalanya buat gue. Dan hari itu juga.... dia membuat hati gue hancur, pecah, dan berserakan dimana-mana. Waktu gue ngelihat dia lagi mensupport dari kejauhan, tiba-tiba, datang seorang laki-laki yang mendekati dia. Dan lo tau mas bro, dia adalah pacarnya Mentari. Coba deh lo bayangin gimana rasanya jadi gue. Gue sedih, hancur, galau, sampai-sampai lukisan gue yang semula adalah lukisan terbagus, menjelma menjadi coretan sampah. Dan akhirnya, gue dapet repetan dari ramadhayani.
Berhari-hari gue jalani hidup gue, dan mencoba bertahan dengan rekor “orang tercepat” yang datang ke sekolahan, namun akhirnya, gue kalah dengan rasa galau. Gue jadi datang paling lama, paling malas belajar, dan paling ga mau keluar kelas. Kehidupan culun gue kini semakin bertambah tarafnya. Gue jadi kuper dan kudet tentang informasi-informasi yang ada disekolah. Tapi ini ga berlangsung lama. Badai galau Cuma melanda hari-hari gue selama satu tahun. Setelah moment kenaikan kelas, gue langsung bisa Move on dari Mentari, sang bidadari kelam gue. Gue langsung bisa melirik bidadari baru. Dan dia adalah..............



to be continue...

episode cinta #1

Ehm ehm ehm, cek cek, satu dua tiga dicoba...
Udah bisa gua mulai nih...?Oh, oke, Gua mulai ya ni
Hai hai hai, apakabar lo mas bro dan mbak bro? semoga lo semua pada sehat wal’afiat ya. Gue Riza, teman-teman gue biasa manggil gue dengan sebutan nico. Ya mereka bilang sih, gue mirip dengan nicola saputra. Cuma, mungkin kebalik ya? Nicola saputra yang mirip dengan gue. Jadi gini masbro, mbak bro, gua mau bagiin cerita gua tentang pengalaman gua suka dengan tigabelas cewek yang karakternya itu, aneh-aneh, tapi unik. Ada yang childist, egois, over, pokonya semua yang aneh aneh deh gua suka. Entah kenapa gua juga ga’ tau kenapa sempat suka sama ketigabelas cewek itu. Tapi, biar gua ceritain dulu deh tentang ketigabelasnya. Biar mas bro dan mbak bro bisa narik kesimpulan sendiri.
#Episode Pertama
Adalah Shinta, Shinta Anggraini. Cewek tinggi putih semampai dengan rambut lurus sebahu yang selalu ditutupi jilbab. Ini adalah pertama kali gue jatuh cinta. Dia adalah anak pindahan dari SD lain ke SD gue, Entah ini namanya cinta monyet atau monyet cinta atau apalah namanya? Yang pasti gue ngerasa ada sesuatu yang beda pada saat itu.
Gue ga ngerti asal muasal perasaan ini ada. Tapi waktu pertama dia memperkenalkan diri di depan kelas itu, ada sesuatu yang beda dari cewek-cewek lain di kelas gue. Pada saat penempatan tempat duduk, gue berharap banget bisa duduk disebelah dia. Secara, saat itu teman-teman pada kepo buat ngomongin tentang dia terus. Tapi, waktu bu cut, walikelas kami menempatkan dia, dia ditempatin di sebelah laksmi, wanita sedikit gendut, namun sedikit pendiam. Sedikit lo mas bro, mbak bro, ga banyak. Banyakan mah recoknya. Kalau dia udah nge-rep itu mirip banget dengan eminem dengan lagu mocking bird nya. Tapi dia teman yang baik kok. Eehhh, tunggu dulu, kita balik ke masalah awal. Semua temen gue yang cowok ngerasa kecewa. Termasuk gue, ya, walau ga dinampakin sih. Tapi kalau udah kecewa ya tetap aja kecewa.
Pertama gue nyapa dia itu, pake alibi yang biasa dipake teman-teman gue waktu SD. “Shinta, ada pena dua? Kalau ada, nuriza pinjem penanya satu dong”. Begitulah alibi gue buat ngomong sama dia untuk pertama kali. Tapi gue masih culun banget dulu mas, mbak. Rambut di sisir samping, pangkas selalu 2 sisir, baju juga selalu dimasukin. Pokonya di kelas, gue anak paling culun kedua setelah Ono Harto. Dari namanya, pasti mas bro dan mbak bro nerka bahwa dia adalah keturunan Jawa Tulen. Teett toott. Salah mas bro, mbak bro. Dia temen gua yang berketurunan tionghoa. Tulen malahan. Hanya aja, mungkin waktu hamil, nyokapnya kerasukan vampir jawa kali ya? Hehehe. Gaya dan tingkahnya yang selalu gigit-gigit pena itu menjadikannya sebagai orang terculun di kelas kami. Jadi posisi gue tetap aman, karena masih ada Ono di atas gue.
“ini, za” jawab shinta dengan suara lembutnya. Rasanya waktu dia nyebut nama gue itu mas bro, mbak bro, badan gue serasa melayang ke atas awan, ditemani lumba-lumba terbang kayak di iklan GoodTime. Eh, bukan yang ini. Salah salah. Maksud gue kopi itu lo mas bro. good good apa gitu, yg penting ada good good nya lah.
Alis tebal yang tampak bersambung itu membuat gue mendiring. Ingin banget gue bisa miliki dia. Tapi, gak lama kemudian gue tau. Dia anak orang kaya. Melihat status sosialnya itu, gue langsung mundur dan mencoba membuang jauh-jauh tumpukan cinta monyet gue. Dan sekarang, cinta gue telah hilang, terhapus karena status sosial yang membuat gue minder dekat-dekat dengan dia. Akhirnya, cinta monyet gue kini tinggal monyetnya aja. Karena cintanya udah hilang ditelan monyet.

Tuesday, 3 December 2013

bisu - cerpen liris


-BISU-

-Di dermaga-

Wanita itu kini berdiri di pucuk dermaga biru
Memandang ke arah timur surya terbenam
ia kini direngkuh kesunyian yang dalam tak berdasar
membuat ia bertelut tanya
Duh, bunda. mengapa dia pergi tanpa tanda ingin kembali
selembar suratpun tak kunjung menghampiri
oh, malam pun kini membentang gelap
semalam-malam ia duduk tanpa lelap               
ah, telah biasa ia seperti ini. berteman hembus angin
yang menusuk sulbi
aku memandangnya sedang terjerit di pucuk kesendirian
aku terjerit. dia diam
wanita itu hanya menutup hari dengan kenangan penuh-penuh tentang tawa ibu.
tanpa peduli. lelaki yang berteman penantian akan segera pergi. mati.
oh, cinta yang di sentuhnya tak beri apa.
kapan kesunyian berakhir entah.
ia terus berdiri di pucuk dermaga yang bisu. setiap petang,
hingga malam menggelar gelap pada hamparan bumi.
bumi terlelap. ia tak lelap.

-Skenario usang-

aku melihatnya dengan mata di kepalaku.
dia sedang penuh jelaga.
terus diliriknya ibar-ibar yang berlalu. cuma ombak huyung menari mengamok sepi.
bercinta dengan malam. melahirkan angin yang menembus rongga pada dada yang tak lagi pias.
sepenuh waktu ia mendongak ke arah bintang-gemintang tergantung.
kerlipnya kecil dan semakin hilang saat surya merobek warna hitam pada tanah. terus ia mengeluh. berdo'a. melantunkan bait-bait lirih kepada mabud. ia tak lagi sali kini.
tak perlu beri saluir padanya. ia hanya ingin melihat harapnya jadi bait-bait nyata. dunia tak lagi berkabung dengan alam kasih sayang tuhan.
yang agung menyadap kenangan indah lewat skenario yang harus dimainkan. 
Waktu tak lagi memusyawarahkan hasil naskah tuhan. Editing tak perlu. Cukup memainkan laman-laman usang.
Ia penuh jelaga. Ia tak lelap.

-Sepucuk untuk ayah-

Wanita itu menulis sepucuk harapan. tertuju pada Ayah tercinta. ia menanti tanpa tau apa itu lelap. Duh, Yah, kapan kau kirim surat dari surga? apa kau telah lelap di buai alam kasih sayang tuhan? apa kau terhunus panas sang cahaya?

Wanita itu tak tau sama sekali apa kabar. tak pernah terkirim sepucuk apapun sejak 14 tahun silam. dia tak tau itu. tak tau kabarnya apa.
Wanita itu selalu mengirimnya sepucuk kertas usang. menitipkan kepada ibar-ibar. tanda cinta. tanda rindu. sayang nya padanya yang setelah pandai wanita itu berucap BUNDA, lalu ucap kau AYAH.
Duh, Yah, apa kau tak lihat apa kabar Bunda sekarang? ini akibat kau memalingkan wajahmu dari dunia. enakkah sekarang yah? kau di alam kasih sayang tuhan.
bagaimana dengan kami? apa kau tau kabar ku dan lelaki itu? tlah dicecapnya bangku kuliah pada usia 18 tahun seperti inginmu dulu. kau ingin dia jadi musisi. menulis, melukis? sudah diturutinya itu semua.
Wanita itu sekarang, tlah menulis 6 juz bait Al-qur'an di setiap garis saraf otaknya. dan akan lebih dari itu.

"lantas, setelah apa yang kami perbuat untuk buatmu merasa congkak memiliki anak seperti kami,
kau terus pergi dengan khidmat.? tanpa ada sepucuk surat menghampiri rumah no.19 ini."

wanita itu merengkuh rindu. terlebih lelaki. Bunda pun sama. hanya ia tak ingin lagi tampak begitu.

Duh, yah, datanglah ke rumah no. 19 ini.
wanita berturut serta lelaki siap menyambut dengan kerumus. atau jika tidak. kirimkan saja alamat tempatmu berdiri sekarang. biar aku dan lelaki itu yang datang tempatmu.

-Tempat berada-

Lelaki itu memperhatikan wanita itu terduduk. Tersimpuh. Memohon pada sang mabud.
Ia melirik ke arah bulan. Adakah goresan di permukaan? Atau sekedar tanda. Dimana ayah berada? ketika hati mulai tak mesra dengan keadaannya, tak lelah kah ia semalam-malam menatap purnama tanya.
Duh, Wanita, tau apa kau tentang nya...?
Lelaki itu diam. Membujuk. Mengumbar fakta lumrah tentang apa yang di lakukan bunda sebenarnya. Mata meneteskan sadar. Pelukan erat dicecap lelaki itu dari wanita itu.
Oh, dimana ayah berada? Bersama siapa? Tak rindukah ia dengan kita? Aku rindu mereka. Mencium aroma khas nafas wanita tua itu pun aku rindu. Dimana mereka ada?
Aku yakin mereka merindu kita. Bahkan ingin sekali melihat dengan tubuh yang perlahan menua.
Kau tau dimana?
Di alam kasih sayang tuhan?
Dimana itu? Aku ingin menjemput mereka. Atau hanya sekedar berkunjung untuk mengadu saja.
Dimana entah. Kita juga akan kesana nanti. Tunggu saja.
Semakin-makin erat pelukan itu. Ia terus menggumamkan apa yang dirasa. Ada apa dengan hati? Ada apa dengan bunda? di pelukannya.

-Wasiat Bunda-

Seperempat lebih malam tersita gumam. Pelukan. Rayu-rayuan dari mulut Lelaki sok bijak. Padahal ia pun mengecam hal serupa. Walau sudah tau dimana.
Pelukan tamat. Wanita itu terhasut amarah. Buku harian mengapa ada di genggaman lelaki itu? Ah, pengintip.
Ia menarik sejilid buku bertulis bait-bait gumam hati. Terjatuh kertas. Berisi gumam juga. Dari bunda. Ia menyimpan sekelumit resah. Ungkapnya sebelum kapan pergi ke alam kasih sayang tuhan entah.

Duh, bunda. Kenapa tak ungkap ini sebelumnya?

Menyucur lagi air matanya. Pesan itu singkat. Namun wasiat. Dijadinya Wanita dan Lelaki itu warisan. Segera saja tinggalkan dermaga biru yang bisu. Cepat, jangan sa’i. Bunda menunggu dengan sepi.
Oh, kapan ini berkesudah. Tak ada lagi durja. Bunda tak boleh lagi di hantam keberingasan masa. Cukuplah, hai mabud menulis skenario usang itu. Beri umpan peran baik pada hidup bunda.
Ungkap wanita itu. Bunda terlalu sempurna jika hanya untuk dirangkuh ujian.
Oh, jika tuhan izinkan, kau yang mabud selain Dia.Bunda.

-Lamunan kelam-

Lelaki itu mengenang masa. ia melukis amarah.
melemparkan semua hal kepada bunda. Dia merasa bunda salah. tapi tidak.
Dia tak seperti biasanya. 19 tahun bersama bunda, ia mendadak jadi sesosok ganas monster yang menebar gores luka baru. Dihati bunda.
ah, semua kata fulgar itu hanya biasa. tapi tidak bagi bunda. Ia tak pernah dengar itu. sama sekali tidak dari lelaki itu. Dia pun sama.
tak pernah terdengar karakter kata itu keluar dari tuturnya. bukan lagi Setan. tapi Dajjal yang ada didalam lelaki saat itu. ia hanya memandang satu sisi. itu ego.
ia tak tau kini. dengan apa harus menyamarkan luka bunda. Karena menghapus tidaklah mungkin. semua tetap meninggal bekas.
lantas. harus dengan apa? uang...? jabatan, kesenangan...? atau mungkin se-isi dunia ini...? maafkan aku bunda.
Oh, jika tuhan izinkan, kau yang mabud selain Dia. Bunda.
lalu, harus dengan apa menyamarkan luka? sedang lelaki itu pun tak yakin. apakah kata maafnya akan meleburkan semua dosa atas bunda? harus dengan apa? mungkinkah ia dapat terampuni? mungkinkah? Bunda.

-Do’a Bunda-

Jarak antara rumah, lelaki dan wanita itu tak lagi jauh. Mulut pintu pun sedikit menganga. Terdengar sayup-sayup merdu penuh ketenangan. Dalam tutur Bunda.
Lelaki itu mendengar lantunan. ayat-ayat dalam rumah cinta. Langsung mereka mendekap bunda kuat-kuat hingga sedikit pengap. Bunda telah menyadari skenario apa yang sebenarnya sedang dimainkan Tuhan. Kemudian suara bersambut mesra sentuhan. rambut ikal lelaki yang mulai putih beberapa baris. Di elus. Di kecup.
Ingatkah Bunda tentang nada DO-RE-MI-FA-SOL-MI-DO? yang bunda ajarkan pada lelaki itu di lima SD? Dia juaranya saat itu.
sekarang timbul ngiang. Sang lelaki ingin bertutur manja. untuk ucap kasih, lalu harap terima dari Bunda. dengan pelukan dan kecupan. di kedua pipi dan sebilah kening piasnya. sambil ucapkan "kau anakku" dalam do'a Bunda.