Wednesday, 11 October 2017

Buah yang baik jatuh jauh dari pohonnya

Kekasih, Kau nyala api, aku panasMu
kurayu Engkau setiap waktu
bilamana Engkau berkaca, aku yang terperangkap dalam cerminMu

Kekasih, Kau nyawa didada, aku lembagaMu
bilamana Engkau gelisah, aku pula yang luluh lantah menahan rasaMu

dua puluh burung dalam satu kandang menembus batas bumi langitMu
sekali terkepak sayapnya, tujuh puluh tiga golongan tertinggal di awang-awang
dua puluh burung dalam satu kandang menembus batas
menghiasi altas arsyMu
berkeliling tujuh belas kali
berhenti di lima waktu
membawa enam belas permata dari laut terdalam
Kekasih, demi waktu yang telah membuat biji melahikan akar,
akar melahirkan batang,
batang melahirkan ranting,
ranting melahirkan daun, buah, dan segala saripati yang ada
dalam dada yang rongsok ini
namaMu cukup merah
dan aku kehilangan diriku
kecuali saat aku melihatMu


Medan, 11 Oktober 2017
Nuriza Auliatami

Thursday, 27 October 2016

Siapa Punya Cerita?


Mari ceritakan!
bagaimana air menjadi awan dan menjadi hujan!
hingga air hujan bagai sperma yang menyentuh tanah-tanah.
dan tumbuhan lahir setelah rahim bumi hamil akan akar.
siapa punya kuasa?

Mari ceritakan!
bagaimana tanah-tanah meludahkan air dan menjadi sungai!
hingga air sungai yang tawar dapat kawin dengan dengan asinnya laut.
dan ikan-ikan berenang dengan mata terbuka tanpa rasa perih.
siapa penghulunya?

Mari ceritakan!
bagaimana air pula, memenuhi sepertiga Bumi yang disinggahi manusia!
hingga tinggal hanya sebagian pasang mata dan pasang kelamin.
dan dari sebagian itu timbul bagian tak terhingga---entah kapan habisnya.
siapa peternaknya?

Mari ceritakan!
bagaimana air bisa timbul dibawah kaki bayi yang menghentak-hentak kehausan!
hingga Ibunya berlari kesana kemari---tercemar fatamorgana matanya.
dan dari hentakan itu, airnya tak kunjung kering sampai sekarang.
siapa punya sebab?

Mari ceritakan!
bagaimana air lahir dari sela-sela jari seorang pengembala yang bersahaja!
hingga haus menjadi ilusi bagi orang-orang didekatnya.
dan dari pengembala itu pula dunia ada.
siapa penulisnya?

Mari ceritakan!
bagaimana bisa aku bercerita tentang ini itu!
hingga pendengaranmu lebih penuh dari anggur-anggur yang memenuhi cawan setiap istana.
dan tentang aku yang tak punya daya.
siapa punya cerita?


Kualasimpang, Aceh, Indonesia, 23 Agustus 2014.
Hambatiada, Nuriza Auliatami.
(puisi ini sudah dirilis di buku Sir-naameh: Sebuah Rahasia Karya Nuriza Auliatami)

Pesan untuk sang istri, Nanti.



Kualasimpang, 24 Juli 2014 ; 16:52, ramadhan ke 26.
Oleh : Nuriza Auliatami

Astuti, astuti. Sini dulu kau. Aku mau cerita sebentar sama kau.
sebentar lagi sudah tahun ke empat aku kuliah di USU.
Tapi, aku belum punya rencana apa-apa tentang bagaimana masadepanku. Belum sempat aku memikirkannya. Untuk memikirkan bagaimana hubungan kita selanjutnya saja belum sempat aku. apalagi untuk memikirkan masadepan pada saat uang kuliah melonjak naik seperti ini. Tak lah selesai-selesai aku berfikir.

Tapi, astuti. Kalau-kalau nanti aku tamat, aku ingin merantau dulu ke luar. Ya kemana saja lah, asal keluar. Cari-cari angin aku. Didalam panas soalnya. Nanti kalau aku sudah keluar, baik-baik lah kau jaga diri disini.

Kalau aku balik nanti, aku jadi DPR, terus aku kerja bagus-bagus satu atau dua tahun sebagai wakil dari rakyat, selanjutnya, setelah namaku baik dan besar, korupsi lah aku. Karena gajinya seberapa lah. Paling-paling cuma bisa untuk lap keringatku saja.

Nanti, setelah korupsi aku, kulamar kau.
Kau mau dengan cara apa? Dengan surprise, yang ku kasi kau kalung berlian, atau seperti Bang roma yang melamar Kak Ani dengan cara duduk bersimpuh, ku ambil tanganmu, ku kasi mawar kau, terus ku bilang ; astuti, maukah kau menjadi permaisuriku? Ibu dari anak-anakku. Ratu di kerajaanku? 

Terus kalau kau bilang mau, ku cium lah kau. Tapi kalau kau tak mau, ya mau apalagi. Pasrah saja lah aku. tapi tetap ku cium juga kau. Karena kata si bodat, temanku, sebagai laki-laki kita harus begitu, asal pas posisi, hajar terus.

Nanti, kalau kau mau, kita buat tabungan kita tersebar di banyak negara. Ya biar aman. Biar tak ada yang curiga itu uang dari mana.

Astuti, hei, astuti. kalaupun aku tak jadi DPR, aku ambil S2 saja lah, jadi Dosen aku di Universitas. Ya, kalau uang belanja kurang, tinggal kau bilang. Biar nanti, sewaktu ujian, banyaklah mahasiswa yang tak ku luluskan. Biar nanti dia bayar uang ujian khusus. Jadi kan ada tambahan untuk uang dapur belanjamu. Habisnya, mau jujurpun susah, gaji dosen seberapalah. Bahkan, besar lagi gaji Pemerintah, dari pada gaji orang yang mendidik pemerintah itu. Itupun, entah kapan si pemerintah itu di ajarkan korupsi, tapi tetap, dia korupsi juga. 
Ya, lebih bagus aku sebagai pendidik, korupsi juga lah. Tak mau lah aku kalah. masa' yang ku didik lebih kaya daripada aku.
Gaji halal pendidik, paling-paling cuma bisa dijadikan sebagai ganti tisu toilet yang kotor itu.
Korupsi ya wajar. Karna kalau tak, Tak cukup nanti untuk makan keluarga kita. Belum lagi beli bedak-bedak kau yang segala macam itu.
Ah, tapi Dosen tanggung kali kurasa. Jadi Rektor saja aku ya? Biar nanti kalau ada Beasiswa, bisa ku potong uangnya. Kan bisa nambah-nambah uang rokok ku.

Oy, oy, astuti, dengar ini pesanku. Nanti, kalau kita sudah punya anak. Kau ajar lah dia mengaji dan sembahyang. Biar nanti, bisa di do’akannya kita masuk surga. Dan kalau dia kerja, suruh jadi pedagang saja lah dia. Jangan jadi politikus. Nanti yang di jualnya omong kosong.
Jangan ketawa kau, astuti. Tak kau cium nya ini, aku yang politikus, sedikit banyaknya, mulutku bau taik.
Biar jadi pedagang saja lah dia, ya, ya ya? Biar dibantunya saudara-saudara kita yang susah itu. Disantuninya anak-anak yatim. Dikasinya makan uang halal untuk anak-anaknya. Jangan sempat di ikutnya bapaknya ini. Mau jadi apa negara ini kalau koruptor seperti aku bertambah terus?

Monday, 9 March 2015

DOM----Puisi Esai

Oleh : Nuriza Auliatami


Alam malam ini mendung
petir menyambar-nyambar
kilat melalu lalang bersama peluru-peluru
dan rudal yang terus menghantam dinding-dinding
merobohkan nyawa-nyawa yang lalu lalang
malam ini.

aku tak lagi bisa tidur
suara-suara senjata dari peperangan yang tak berkesudah ini
membuat gendang telingaku seakan pecah

aku menangis----
namun tangisanku tak lagi terdengar
ia telah bersenyawa dengan suara-suara lantang diluar sana

sepenuh minggu aku menunggu
ruang ini masih gelap
sepenuh bulan aku menunggu
ruang ini masih saja hanya memiliki sepucuk lilin
sepenuh tahun aku menunggu
ruang ini tetap hanya ada aku sendiri

aku tetap tersudut
usiaku mulai terkikis
seperti waktu yang juga terus mengikis dinding-dinding kamarku
pun perang ini juga belum usai

kepada rudal-rudal, tank, dan peluru
yang menembus dinding kamarku
aku bertanya

"ada apa?"

sudut ini semakin gelap
seperti ruang hati yang
kian hari kian mengelam

Haahhh---- aku mulai terbiasa dengan suasana ini
kota yang riuh--mengaduh
apa ini yang di sebut takdir?

jika benar,
aku hanya bisa memahami bahwa
sebenarnya semua ini berjalan dengan semestinya
pun aku seharusnya menurut kepada waktu
yang terus menikam---menghantam

para istri juga seyogyanya duduk manis
menunggu suami
yang sedang memeluk perang

ini benar-benar bagian dari takdir.
ayah pergi juga bagian dari takdir
ibu menangis pun takdir

lantas,
kemana ayah pergi?
belum juga ia pulang
tahukah ia?
petang-petangku tak lagi terang
ruang ini semakin-makin menggelap.

anak-anak diluar
telah terperangkap pada masa yatimnya
anak-anak diluar
terengguh nyawanya
oleh suara pecah
oleh tentara-tentara yang memikul tugas negara

tugas negara membawa ribuan peluru
peluru panas merengguh nyawa-nyawa tak berdosa
tak seperti dosa yang sedang dipeluk para tentara
tentara-tentara itu meninggalkan gelar janda pada para istri

ada air mata di mata lucu sang yatim
meregang petang
menghapus senyum-senyum mungil yang
masih suci

satu peluru panas membawa satu nyawa
satu nyawa meninggalkan satu yatim tak berdosa

lalu aku bertanya
pada dinding-dinding yang retak
pada tentara yang meninggalkan istri-anak

"adakah perang membawa kegembiraan?
pada ruang-ruang gelap
pada bilik-bilik hati yang tertusuk?"

lantas,
ia melirik ke arahku
dengan sepucuk senjata
dengan rentetan peluru yang tergantung di dada

ibu tiba-tiba datang
melindungiku---memeluk
membuat sedikit gelap pergi dari ruang ini
membuat cahaya lilin tak lagi punya arti
membuat aku mengeluh

"ibu,
mengapa langit menangis?
mengapa petir murka?
ia menyambar-nyambar
melukis garis-garis ketakutan
pada ruang hati yang gelap

bu,
ada apa dengan langit?
ada apa dengan bumi?
ada apa dengan air mata penuh ketakutan
dari manusia pembenci petir?
ada apa dengan para tentara?
ada apa dengan tawanan?
ada apa dengan diriku?
ada apa dengan pertanyaan ada apa?

bu,
mengapa rasa takut masih saja menghantuiku
bersama gemuruh yang menyambar?
ada apa dengan aku yang selalu merasa takut?

bu,
aku merindu purnama"

lantas,
wanita tua yang ku sebut--ibu--itu
mewariskan kekokohan rasa beraninya padaku
ia mengubah setiap ketakutan dalam diriku
hingga menjelma tenang

di ucapnya mantra-mantra
di pinggir telingaku :

"anakku___
untuk apa kau takut dengan petir?
untuk apa kau takut dengan para tentara?
untuk apa kau mengkhawatirkan para tawanan?
untuk apa kau basahkan matamu dengan ketakutan?
untuk apa kau menanyakan dirimu?

anakku___
izinkan aku bercerita sedikit tentangmu.
tentang apa yang didalam takdir tersurat tentangmu
sebelum tidur panjang malam ini. :

kita akan mati
walau dengan atau tanpa rasa takut
walau tanpa tangisan langit
dan petir-petir yang menyambar

kita serupa pengembara yang lalu lalang
di antara bukit barisan yang terbentang
melukis jejak
dengan tapak-tapak yang perlahan
akan hilang termakan angin
lalu kita berkemas
mengumpul bekal
lalu kembali ke pembaringan
saat langit menangis----saat petir menyambar.
pun saat purnama tak lagi di pangkuan malam


"

Haahhh---senang aku
lega nafasku---meskipun hanya sesaat
sebelum suara itu menyambut tenangku
dengan ibu yang telah roboh

hening----gelap
ruang ini semakin pekat
lilin kecil telah padam
peluru-peluru menembus dinding
seperti ia menembus tubuh ibu
menghentikan gerak nadi ibu

nyawanya terbang bersama nyawa-nyawa tak berdosa lainnya
nyawanya terbang di hadapanku
separuh nyawaku terbang di hadapanku
aku tertegun
aku separuh mati

"mengapa?
ibuuu---
Tuhan,
ada apa dengan ibu?
mengapa harus ibu?
mengapaaa____"

aku melirik ke arah orang itu
aku menatapnya---dalam
dalam sekali
tanpa ada dasar

ia melirik ke arahku
ia menatapku---dalam
dalam sekali
hingga ia terjatuh

dilihatnya tanah yang basah dengan darah
dilihatnya mataku
mataku basah dengan kebencian

"Tuhan----
dimana?
dimana manusia?
dimana manusia-manusia yang merindukan kedamaian?
mengapa hanya ada binatang-binatang berseragam?

dimana keadilan?
untuk 'ku----untuk ibu
untuk ilalang-ilalang yang ingin tumbuh
untuk burung-burung yang tak lagi bebas?"

mataku basah dengan kebencian
tanah basah dengan darah ibu
tentara basah dengan dosanya sendiri
ruang ini semakin basah dengan gelap

aku piatu
air mataku jatuh beribu
meski para tentara telah diserbu
oleh pejuang,
bersenjatakan bambu

purnama kembali tiba
gemintang kembali tiba
langit nusantara kembali ceria
pawana menghembuskan kata merdeka keseluruh Indonesia

Negeri ini telah merdeka, bu---
negeri ini merdeka---

tapi mengapa merdeka itu tidak untukku?
mengapa cahaya tak juga mengusir gelap-gelapku?

sepenuh minggu aku menunggu
ruang ini masih gelap
sepenuh bulan aku menunggu
ruang ini telah kehabisan lilinnya
sepenuh tahun aku menunggu
teman-temanku roboh satu-satu

lantas,
siapa yang harus ku salahkan sekarang?
salahkah aku jika masih saja bertanya

"dimana merdeka?"

saat ibu pergi
saat ayah tak juga kembali
saat petir menyambar
saat langit kembali menangis bersamaku

Hhooohh---

semoga apa yang ada didalam hatiku
telah terungkap di hatimu
walaupun itu tanpa ungkapan

sungguh
silahkan rasakan aku
silahkan baca lirik rasa dalam hatiku
semua mengalir
serupa darah yang belum juga berhenti berjalan
menyusuri lorong-lorong nadiku
mengantar cinta dari ubun-ubun hingga kakiku
pun ia menyentuh dalam ruh ku

serupa langit yang tak akan pernah lengkap
bila hanya malam yang bersamanya
dan hujan,
tanpa suara rintik yang
menyentuh atap-atap rumah
pun aku seperti itu jika tanpamu

sepenuh musim ayang telah kita jalani bersama
sepenuh cerita yang mengantar kita pada sebuah hukum
yang mereka sebut--takdir--
lalu,
sepenuh langit dan bumi
kau mengantarkan aku pada
satu ungkapan yang tak pernah
tertuai dalam puisi-puisiku

bu----
aku merindukanmu




Rabu, 09 Oktober 2013
-za-

Saturday, 14 February 2015

Catatan Maya : Lembar ke tiga



sepertinya judi adalah sebuah nafas yang tak boleh berhenti, jika tidak, aku mati. akan tetapi tetap, hal ini hanya aku dan mitra judiku yang tau. aku benar-benar bisa merahasiakan hal gila ini dari keluargaku.
saat itu ada banyak cara yang menjadikan judi terlihat menarik. bahkan lebih menarik dari sekedar penambah berat kantong. ia terlihat lebih renyah daripada kacang goreng yang diberi bumbu rasa bawang putih. beberapa cara dari banyak cara itu seperti berjudi dengan mainan gambar anak, ludo, ular tangga, kuaci, bahkan kelereng pun menjadi media yang menyenangkan untuk melakukan itu. tubuh fisik ku dan teman di lingkunganku memang masih sangat polos dan lugu. akan tetapi, fikiran kami, ketika sadar angka, sudah membutakan kami bahwa kami hanya remaja yang masih berada dibawah ketiak mama. seolah kami lahir sebelum tubuh kami dilahirkan.
 tanpa basa basi, judi masuk ke kehidupanku, dan mendarah daging untuk beberapa saat. saat saat selanjutnya, aku tak lagi mengenal apa itu judi. Aku mulai menjalani hidupku yang mungkin bukan pertama begini, aku harus berpisah lagi dengan keluargaku.
Aku melanjutkan pendidikanku di kota Langsa, sebelah kota kelahiranku, menumpang di rumah adik mamaku yang biasa kami panggil Encu. Aku dididik keras ditempat ini soal agama. Encu adalah seorang sarjana Agama, juga seorang aktifis akut di Partai Keadilan Sejahtera. Segala sesuatu, apapun yang di ajarkannya kepadaku mungkin, hampir tidak pernah tidak dikaitkannya dengan partai itu. Bahkan aku sempat menjadi aktifis didalamnya.
Pada mulanya aku merasa sangat asing di tempat ini. Lokasinya sangat tidak strategis. Tidak bersahabat dengan karakterku. Aku mengalami kejenuhan yang sangat. Aku punya firasat yang menggebu-gebu untuk pulang ke rumah. Aku merasa lebih asing dibanding orang asing. saat itu, hanya dinding kamar yang tau siapa aku, dan kami saling mengenal.



To be Continue...

Catatan Maya : Lembar ke dua



saat itu aku benar-benar tak mengerti apa yang dilakukannya itu benar ataukah salah meninggalkan dua orang anak kecil yang masih rabun norma. tangisan adalah yang satu-satunya dapat mengungkapkan bagaimana suasana kepergiannya saat itu.
sejak saat itu aku seolah berdiri sendiri. aku belajar dari apa yang aku lihat, dan aku melakukan beberapa peniruan dalam gaya hidup seorang anak. mulai dari kehidupan temanku yang glamour, hingga kehidupan yang sebenarnya tak layak disebut sebagai hidup, untuk melengkapi beberapa kebutuhan itu, terkadang mencuri adalah pilihan yang terasa tak punya jalan keluar.
lingkungan dimana aku hidup sangat jagal. bukan tentang keluarga kami, tetapi tetangga di sudut lingkungan. judi, ganja, mencuri, mabuk-mabukan adalah hal yang sangat awam disana.
tidak semua! hanya beberapa hal seperti judi dan mencuri saja yang terlibat masuk kedalam kehidupanku saat aku mulai sadar angka. judi kulakukan untuk menambah uang jajan yang bisa dibilang tak ada, dan mencuri hanya pada uang adikku dan nenekku saja. aku tak mau membuat malu keluarga dengan mencuri. sedangkan judi, itu sudah awam di lingkunganku, jadi aku cukup merahasiakannya dari keluargaku.
perlahan, aku memasuki usia yang tak lagi muda. bisa dibilang remaja. satu persatu buah fikir tumbuh dari dalam kepalaku. kali itu mungkin bukan pertama kali kesadaranku tumbuh. kali itu aku ingin sekali melanjutkan sekolah menengah pertama di Pondok saja. tapi jauh benda dari jangkau, ibu yang sedang jauh tak mengizinkan. katanya, aku sering sakit-sakitan. katanya, ia takut aku sakit. ya, benar! aku sakit, dan yang membuat aku sakit mungkin akibat perbuatanku itu. waktu yang ada saat itu juga terbuang percuma. pada masa SMP ku, sama saja, judi tetap lestari. malah lebih aneh lagi, kami menebak angka akhir dari plat mobil yang akan lewat. setiap satu nomor keluar, maka bayaran yang diperoleh sebesar dua ribu rupiah.
sejak saat itu aku mulai terbiasa dengan dunia hitam itu. aku mencuri lebih sering daripada biasanya. berbohong lebih sering dari biasanya. aku tak benar-benar paham apa itu dosa. bagiku dosa hanyalah sekedar mitos yang membebani dan meracuni akal sehatku. aku benar-benar melakukan hal itu lebih sering daripada biasanya. seakan, kebenaran tentang aku yang suka berjudi tak terelakkan lagi.

To be Continue...

Tuesday, 3 February 2015

Catatan Maya

Tulisan ini adalah catatan nonfiksi. Autobiografi pertama dalam kertas maya ini. semuanya terkesan baru saja lahir. aku merasa seperti baru saja menghadirkan ribuan huruf dan bermacam kata ke dalam dunia ini. kemudian disini, aku menganggap dunia adalah batu atau kayu bahan memahat. aku melihat kayu dan batu itu tepat dihadapanku. aku belum mengerti apa yang akan ku buat dengan kayu dan batu ini. aku hanya terus memandang dan memandang, seolah kayu dan batu ini akan menjadi sesuatu yang bukan kayu dan batu lagi. bentuknya cukup sederhana. bahkan tak layak disebut sebagai "sederhana lagi". benda ini memang tak layak disebut sebagai "sederhana" karena ia kurang dari itu.  lebih sederhana dari sederhana. aku berpaling dari hadapan keduanya dan aku melanjutkan kembali sesuatu yang disebut-sebut sebagai hidup.
di dunia yang menampung dunia ini, terjadi banyak sekali hal-hal aneh seperti ; burung terbang, ikan bernapas didalam air, angin yang terasa namun tidak terlihat, pegunungan yang tinggi, hewan bergerombol, dan hey!  manusia lahir dari dalam manusia. bagaimana bisa? bukankah tubuh manusia hanya terdiri dari organ-organ? bagaimana bisa manusia hadir didalam manusia? dan hal teraneh didalam dunia itu adalah kehidupan dan kematian.
bagi yang melihat, kehidupanku di dalam dunia yang menampung dunia ini terasa begitu sederhana sehingga yang terjadi hanya beberapa pekerjaan yang mengalami pengulangan saja ; makan, mandi, tidur, buang air, kuliah di universitas, dan beberapa yang lain. tapi sebenarnya tak sesederhana itu didalam kepala ini.
aku terlahir dari keluarga yang sederhana. ibuku awalnya bekerja sebagai sekertaris ayahku yang memilih bekerja sebagai seorang kontraktor. akan tetapi itu tidak berlangsung begitu lama, setelah kematian ayahku. ibuku memulai kembali karirnya sendiri sebagai seorang ibu rumah tangga yang harus menafkahi kedua anaknya.
sejak duduk di sekolah dasar, aku belajar banyak dari guruku bahwa begitulah seorang ibu. akan tetapi aku saat itu hanya seorang anak dan individu yang tak peduli apapun kejadian diluar diriku. dunia ku adalah duniaku, dan setiap orang punya dunianya sendiri. setidaknya begitu.
ibu meninggalkan kami untuk menjumpai kami pada saat ia kembali dengan keadaan yang berbeda ; postur tubuh, daya fikir, kehidupan spiritual, sosial, dan prestasi-prestasi baru. beliau mendedikasikan tenaga dan waktunya untuk bekerja sebagai TKI di Malaysia guna menghidupi dua orang anak yang ditinggalnya sementara bersama nenek ku.

To be continue...