Showing posts with label Coretanku. Show all posts
Showing posts with label Coretanku. Show all posts

Wednesday, 11 October 2017

Buah yang baik jatuh jauh dari pohonnya

Kekasih, Kau nyala api, aku panasMu
kurayu Engkau setiap waktu
bilamana Engkau berkaca, aku yang terperangkap dalam cerminMu

Kekasih, Kau nyawa didada, aku lembagaMu
bilamana Engkau gelisah, aku pula yang luluh lantah menahan rasaMu

dua puluh burung dalam satu kandang menembus batas bumi langitMu
sekali terkepak sayapnya, tujuh puluh tiga golongan tertinggal di awang-awang
dua puluh burung dalam satu kandang menembus batas
menghiasi altas arsyMu
berkeliling tujuh belas kali
berhenti di lima waktu
membawa enam belas permata dari laut terdalam
Kekasih, demi waktu yang telah membuat biji melahikan akar,
akar melahirkan batang,
batang melahirkan ranting,
ranting melahirkan daun, buah, dan segala saripati yang ada
dalam dada yang rongsok ini
namaMu cukup merah
dan aku kehilangan diriku
kecuali saat aku melihatMu


Medan, 11 Oktober 2017
Nuriza Auliatami

Thursday, 27 October 2016

Siapa Punya Cerita?


Mari ceritakan!
bagaimana air menjadi awan dan menjadi hujan!
hingga air hujan bagai sperma yang menyentuh tanah-tanah.
dan tumbuhan lahir setelah rahim bumi hamil akan akar.
siapa punya kuasa?

Mari ceritakan!
bagaimana tanah-tanah meludahkan air dan menjadi sungai!
hingga air sungai yang tawar dapat kawin dengan dengan asinnya laut.
dan ikan-ikan berenang dengan mata terbuka tanpa rasa perih.
siapa penghulunya?

Mari ceritakan!
bagaimana air pula, memenuhi sepertiga Bumi yang disinggahi manusia!
hingga tinggal hanya sebagian pasang mata dan pasang kelamin.
dan dari sebagian itu timbul bagian tak terhingga---entah kapan habisnya.
siapa peternaknya?

Mari ceritakan!
bagaimana air bisa timbul dibawah kaki bayi yang menghentak-hentak kehausan!
hingga Ibunya berlari kesana kemari---tercemar fatamorgana matanya.
dan dari hentakan itu, airnya tak kunjung kering sampai sekarang.
siapa punya sebab?

Mari ceritakan!
bagaimana air lahir dari sela-sela jari seorang pengembala yang bersahaja!
hingga haus menjadi ilusi bagi orang-orang didekatnya.
dan dari pengembala itu pula dunia ada.
siapa penulisnya?

Mari ceritakan!
bagaimana bisa aku bercerita tentang ini itu!
hingga pendengaranmu lebih penuh dari anggur-anggur yang memenuhi cawan setiap istana.
dan tentang aku yang tak punya daya.
siapa punya cerita?


Kualasimpang, Aceh, Indonesia, 23 Agustus 2014.
Hambatiada, Nuriza Auliatami.
(puisi ini sudah dirilis di buku Sir-naameh: Sebuah Rahasia Karya Nuriza Auliatami)

Pesan untuk sang istri, Nanti.



Kualasimpang, 24 Juli 2014 ; 16:52, ramadhan ke 26.
Oleh : Nuriza Auliatami

Astuti, astuti. Sini dulu kau. Aku mau cerita sebentar sama kau.
sebentar lagi sudah tahun ke empat aku kuliah di USU.
Tapi, aku belum punya rencana apa-apa tentang bagaimana masadepanku. Belum sempat aku memikirkannya. Untuk memikirkan bagaimana hubungan kita selanjutnya saja belum sempat aku. apalagi untuk memikirkan masadepan pada saat uang kuliah melonjak naik seperti ini. Tak lah selesai-selesai aku berfikir.

Tapi, astuti. Kalau-kalau nanti aku tamat, aku ingin merantau dulu ke luar. Ya kemana saja lah, asal keluar. Cari-cari angin aku. Didalam panas soalnya. Nanti kalau aku sudah keluar, baik-baik lah kau jaga diri disini.

Kalau aku balik nanti, aku jadi DPR, terus aku kerja bagus-bagus satu atau dua tahun sebagai wakil dari rakyat, selanjutnya, setelah namaku baik dan besar, korupsi lah aku. Karena gajinya seberapa lah. Paling-paling cuma bisa untuk lap keringatku saja.

Nanti, setelah korupsi aku, kulamar kau.
Kau mau dengan cara apa? Dengan surprise, yang ku kasi kau kalung berlian, atau seperti Bang roma yang melamar Kak Ani dengan cara duduk bersimpuh, ku ambil tanganmu, ku kasi mawar kau, terus ku bilang ; astuti, maukah kau menjadi permaisuriku? Ibu dari anak-anakku. Ratu di kerajaanku? 

Terus kalau kau bilang mau, ku cium lah kau. Tapi kalau kau tak mau, ya mau apalagi. Pasrah saja lah aku. tapi tetap ku cium juga kau. Karena kata si bodat, temanku, sebagai laki-laki kita harus begitu, asal pas posisi, hajar terus.

Nanti, kalau kau mau, kita buat tabungan kita tersebar di banyak negara. Ya biar aman. Biar tak ada yang curiga itu uang dari mana.

Astuti, hei, astuti. kalaupun aku tak jadi DPR, aku ambil S2 saja lah, jadi Dosen aku di Universitas. Ya, kalau uang belanja kurang, tinggal kau bilang. Biar nanti, sewaktu ujian, banyaklah mahasiswa yang tak ku luluskan. Biar nanti dia bayar uang ujian khusus. Jadi kan ada tambahan untuk uang dapur belanjamu. Habisnya, mau jujurpun susah, gaji dosen seberapalah. Bahkan, besar lagi gaji Pemerintah, dari pada gaji orang yang mendidik pemerintah itu. Itupun, entah kapan si pemerintah itu di ajarkan korupsi, tapi tetap, dia korupsi juga. 
Ya, lebih bagus aku sebagai pendidik, korupsi juga lah. Tak mau lah aku kalah. masa' yang ku didik lebih kaya daripada aku.
Gaji halal pendidik, paling-paling cuma bisa dijadikan sebagai ganti tisu toilet yang kotor itu.
Korupsi ya wajar. Karna kalau tak, Tak cukup nanti untuk makan keluarga kita. Belum lagi beli bedak-bedak kau yang segala macam itu.
Ah, tapi Dosen tanggung kali kurasa. Jadi Rektor saja aku ya? Biar nanti kalau ada Beasiswa, bisa ku potong uangnya. Kan bisa nambah-nambah uang rokok ku.

Oy, oy, astuti, dengar ini pesanku. Nanti, kalau kita sudah punya anak. Kau ajar lah dia mengaji dan sembahyang. Biar nanti, bisa di do’akannya kita masuk surga. Dan kalau dia kerja, suruh jadi pedagang saja lah dia. Jangan jadi politikus. Nanti yang di jualnya omong kosong.
Jangan ketawa kau, astuti. Tak kau cium nya ini, aku yang politikus, sedikit banyaknya, mulutku bau taik.
Biar jadi pedagang saja lah dia, ya, ya ya? Biar dibantunya saudara-saudara kita yang susah itu. Disantuninya anak-anak yatim. Dikasinya makan uang halal untuk anak-anaknya. Jangan sempat di ikutnya bapaknya ini. Mau jadi apa negara ini kalau koruptor seperti aku bertambah terus?

Monday, 9 March 2015

DOM----Puisi Esai

Oleh : Nuriza Auliatami


Alam malam ini mendung
petir menyambar-nyambar
kilat melalu lalang bersama peluru-peluru
dan rudal yang terus menghantam dinding-dinding
merobohkan nyawa-nyawa yang lalu lalang
malam ini.

aku tak lagi bisa tidur
suara-suara senjata dari peperangan yang tak berkesudah ini
membuat gendang telingaku seakan pecah

aku menangis----
namun tangisanku tak lagi terdengar
ia telah bersenyawa dengan suara-suara lantang diluar sana

sepenuh minggu aku menunggu
ruang ini masih gelap
sepenuh bulan aku menunggu
ruang ini masih saja hanya memiliki sepucuk lilin
sepenuh tahun aku menunggu
ruang ini tetap hanya ada aku sendiri

aku tetap tersudut
usiaku mulai terkikis
seperti waktu yang juga terus mengikis dinding-dinding kamarku
pun perang ini juga belum usai

kepada rudal-rudal, tank, dan peluru
yang menembus dinding kamarku
aku bertanya

"ada apa?"

sudut ini semakin gelap
seperti ruang hati yang
kian hari kian mengelam

Haahhh---- aku mulai terbiasa dengan suasana ini
kota yang riuh--mengaduh
apa ini yang di sebut takdir?

jika benar,
aku hanya bisa memahami bahwa
sebenarnya semua ini berjalan dengan semestinya
pun aku seharusnya menurut kepada waktu
yang terus menikam---menghantam

para istri juga seyogyanya duduk manis
menunggu suami
yang sedang memeluk perang

ini benar-benar bagian dari takdir.
ayah pergi juga bagian dari takdir
ibu menangis pun takdir

lantas,
kemana ayah pergi?
belum juga ia pulang
tahukah ia?
petang-petangku tak lagi terang
ruang ini semakin-makin menggelap.

anak-anak diluar
telah terperangkap pada masa yatimnya
anak-anak diluar
terengguh nyawanya
oleh suara pecah
oleh tentara-tentara yang memikul tugas negara

tugas negara membawa ribuan peluru
peluru panas merengguh nyawa-nyawa tak berdosa
tak seperti dosa yang sedang dipeluk para tentara
tentara-tentara itu meninggalkan gelar janda pada para istri

ada air mata di mata lucu sang yatim
meregang petang
menghapus senyum-senyum mungil yang
masih suci

satu peluru panas membawa satu nyawa
satu nyawa meninggalkan satu yatim tak berdosa

lalu aku bertanya
pada dinding-dinding yang retak
pada tentara yang meninggalkan istri-anak

"adakah perang membawa kegembiraan?
pada ruang-ruang gelap
pada bilik-bilik hati yang tertusuk?"

lantas,
ia melirik ke arahku
dengan sepucuk senjata
dengan rentetan peluru yang tergantung di dada

ibu tiba-tiba datang
melindungiku---memeluk
membuat sedikit gelap pergi dari ruang ini
membuat cahaya lilin tak lagi punya arti
membuat aku mengeluh

"ibu,
mengapa langit menangis?
mengapa petir murka?
ia menyambar-nyambar
melukis garis-garis ketakutan
pada ruang hati yang gelap

bu,
ada apa dengan langit?
ada apa dengan bumi?
ada apa dengan air mata penuh ketakutan
dari manusia pembenci petir?
ada apa dengan para tentara?
ada apa dengan tawanan?
ada apa dengan diriku?
ada apa dengan pertanyaan ada apa?

bu,
mengapa rasa takut masih saja menghantuiku
bersama gemuruh yang menyambar?
ada apa dengan aku yang selalu merasa takut?

bu,
aku merindu purnama"

lantas,
wanita tua yang ku sebut--ibu--itu
mewariskan kekokohan rasa beraninya padaku
ia mengubah setiap ketakutan dalam diriku
hingga menjelma tenang

di ucapnya mantra-mantra
di pinggir telingaku :

"anakku___
untuk apa kau takut dengan petir?
untuk apa kau takut dengan para tentara?
untuk apa kau mengkhawatirkan para tawanan?
untuk apa kau basahkan matamu dengan ketakutan?
untuk apa kau menanyakan dirimu?

anakku___
izinkan aku bercerita sedikit tentangmu.
tentang apa yang didalam takdir tersurat tentangmu
sebelum tidur panjang malam ini. :

kita akan mati
walau dengan atau tanpa rasa takut
walau tanpa tangisan langit
dan petir-petir yang menyambar

kita serupa pengembara yang lalu lalang
di antara bukit barisan yang terbentang
melukis jejak
dengan tapak-tapak yang perlahan
akan hilang termakan angin
lalu kita berkemas
mengumpul bekal
lalu kembali ke pembaringan
saat langit menangis----saat petir menyambar.
pun saat purnama tak lagi di pangkuan malam


"

Haahhh---senang aku
lega nafasku---meskipun hanya sesaat
sebelum suara itu menyambut tenangku
dengan ibu yang telah roboh

hening----gelap
ruang ini semakin pekat
lilin kecil telah padam
peluru-peluru menembus dinding
seperti ia menembus tubuh ibu
menghentikan gerak nadi ibu

nyawanya terbang bersama nyawa-nyawa tak berdosa lainnya
nyawanya terbang di hadapanku
separuh nyawaku terbang di hadapanku
aku tertegun
aku separuh mati

"mengapa?
ibuuu---
Tuhan,
ada apa dengan ibu?
mengapa harus ibu?
mengapaaa____"

aku melirik ke arah orang itu
aku menatapnya---dalam
dalam sekali
tanpa ada dasar

ia melirik ke arahku
ia menatapku---dalam
dalam sekali
hingga ia terjatuh

dilihatnya tanah yang basah dengan darah
dilihatnya mataku
mataku basah dengan kebencian

"Tuhan----
dimana?
dimana manusia?
dimana manusia-manusia yang merindukan kedamaian?
mengapa hanya ada binatang-binatang berseragam?

dimana keadilan?
untuk 'ku----untuk ibu
untuk ilalang-ilalang yang ingin tumbuh
untuk burung-burung yang tak lagi bebas?"

mataku basah dengan kebencian
tanah basah dengan darah ibu
tentara basah dengan dosanya sendiri
ruang ini semakin basah dengan gelap

aku piatu
air mataku jatuh beribu
meski para tentara telah diserbu
oleh pejuang,
bersenjatakan bambu

purnama kembali tiba
gemintang kembali tiba
langit nusantara kembali ceria
pawana menghembuskan kata merdeka keseluruh Indonesia

Negeri ini telah merdeka, bu---
negeri ini merdeka---

tapi mengapa merdeka itu tidak untukku?
mengapa cahaya tak juga mengusir gelap-gelapku?

sepenuh minggu aku menunggu
ruang ini masih gelap
sepenuh bulan aku menunggu
ruang ini telah kehabisan lilinnya
sepenuh tahun aku menunggu
teman-temanku roboh satu-satu

lantas,
siapa yang harus ku salahkan sekarang?
salahkah aku jika masih saja bertanya

"dimana merdeka?"

saat ibu pergi
saat ayah tak juga kembali
saat petir menyambar
saat langit kembali menangis bersamaku

Hhooohh---

semoga apa yang ada didalam hatiku
telah terungkap di hatimu
walaupun itu tanpa ungkapan

sungguh
silahkan rasakan aku
silahkan baca lirik rasa dalam hatiku
semua mengalir
serupa darah yang belum juga berhenti berjalan
menyusuri lorong-lorong nadiku
mengantar cinta dari ubun-ubun hingga kakiku
pun ia menyentuh dalam ruh ku

serupa langit yang tak akan pernah lengkap
bila hanya malam yang bersamanya
dan hujan,
tanpa suara rintik yang
menyentuh atap-atap rumah
pun aku seperti itu jika tanpamu

sepenuh musim ayang telah kita jalani bersama
sepenuh cerita yang mengantar kita pada sebuah hukum
yang mereka sebut--takdir--
lalu,
sepenuh langit dan bumi
kau mengantarkan aku pada
satu ungkapan yang tak pernah
tertuai dalam puisi-puisiku

bu----
aku merindukanmu




Rabu, 09 Oktober 2013
-za-

Sunday, 27 July 2014

setialah padaku.

RSUD Aceh Tamiang, 22 Mei 2014.
Nuriza Auliatami


Tuhanku.
jika ini akhir waktuku.
kumau kau tak cari teman baru untuk menemanimu bercumbu.
umurku sudah diwaktu Maghrib.
sebentar lagi Isya.
dan hari baru akan kau cipta.
tapi jangan kekasih baru!
cemburu aku!

Wednesday, 23 July 2014

Sang Perajut : kepada Alm. H. Amirsyah Siregar (Papa Fredie Arsi)



Oleh : Nuriza Auliatami

Selamat malam untuk kau yang sedang tenang bersama Tuhan, Pa. 
Aku ingin kabarkan, Baru saja, kami melakoni hal yang kau cintai.
Musikalisasi puisi.

Pa, tak sempat aku lihat wajahmu.

Kendatipun, cinta yang kau tinggalkan sudah lebih dari cukup bagiku.

Sebab dengan cintamu, Pa

Kagum merasuki jiwa pepasir dipantai ; tak tau jumlahnya berapa.

Aduh, Pa-

Telat aku. Seharusnya kabar ini ku sampaikan 20 Juli lalu.

Saat dunia bersuka menyambut sang perajut. 
Adalah hati-hati pecinta yang kau rajut dengan cinta, pula.

Pa, tiga ramadhan sudah.

Kau dipangkuan Tuhan.

Tanpamu,

Aku seperti memuja malam tanpa bintang, sekarang!

Dan aku, tak lebih dari aku yang aku.

tapi, apalagi yang lidah hendak silatkan?

Cinta Tuhan kepadamu selalu lebih sejengkal---dari kami.


Kualasimpang, Aceh Tamiang, 23 Juli 2014.

Surat Untuk Tuhan

Oleh : Nuriza Auliatami

Hei, Tuhan!
rumah-rumah ibadah dijadikan mereka sebagai rumah untuk-Mu bukan?
ku tengok, ia roboh satu-satu.
apakah Kau akan jadi gelandangan, kemudian...?
ya sudah,
begini saja.
kita sepakati, Kau merumahlah di Hatiku.
karena, Untukmu, ini masih cukup lapang.
Maha Lapang, Bahkan.



# Pelabuhan Merak, 20 Juli 2014.

Thursday, 6 February 2014

Surat usang untuk Fa #2

Fa, langit sore tadi memerah muda. bibirku melebar beberapa senti. kupandangi itu, selalu. aku melihat keindahan yang tak lebih didalamnya ada kau, Fa. sekali pandang, aku terbayang. duakali pandang, aku sayang. tigakali kupandang, aku melayang.
berkali kupandang, makin melayang. terakhir ku pandang, ia menghilang.

aku terjebak pada lamunan tentangmu, Fa.
dan terus kuhitung mundur waktu. sepuluh saat, sembilan saat, delapan saat, tujuh saat, enam saat, lima saat, empat saat, tiga saat, dua saat, sesaat, kosong. dan kumbang-kumbang kehabisan taman untuk bersuka.
aku saat ini hanya menunggu kau mati dihatiku, Fa. s'bab aku (mungkin) tak pernah hidup dihatimu.

kemudian teringat tentang rasa yang, entah telah berhasil aku menghapusnya.
seperti langit tadi, yang menghapus cahaya. kemudian biarkan gelap menjadi selimut.

ya, kurasa aku ingin jadi langit saja, Fa. karena ia bisa menghapus pigura merah muda senja, sesukanya. toh, besok pigura itu bisa datang lagi.

tapi kelihatannya harapanku adalah harapan. dan hati membiarkan waktu yang tak bermulut menjawab seberapa besar keuntungan dari penantian.
jangan beri aku diam, Fa. karena gelisah adalah yang aku dapatkan. dan kau tau, keresahan adalah neraka yang tak berujung. bagiku.

aku tunggu, Fa. pesan singkat darimu. nomor rumah ku masih yang dulu.
"sembilan puluh juta enam ratus dua puluh tujuh ribu seratus tiga puluh lima."
ku harap itu berisi kembaran perasaanku. atau kuharap, tidak sama sekali, tiada.


-za-

Wednesday, 5 February 2014

Surat usang untuk Fa.

Oleh : Nuriza Auliatami

Fa, kutulis ini dalam catatan usang milikku.
tentang kisah kita. saat bertemu di mushalla.
aku sungguh tak mengenalimu, fa. sungguh.
sebelum ku beranikan diri untuk berkenalan denganmu. aku benar tak mengenal dirimu sebelumnya.
tetapi vibrasi yang kau pancarkan seolah mengatakan kau adalah orang yang akan mengisi kotak ke enamku, fa.
saat itu suasana runyam. beberapa mahasiswa menjerit histeris. entah, akupun tak tau mengapa.
kutanya padamu, fa, apa kau mengenal mereka? dan jawabmu, tidak.
itu semua hanya alibi yang tercipta dari dorongan keinginan hati untuk mendengar suaramu pertama kali.

Fa, setiap hari ku intip-intip gerakmu. senyummu, tangismu, marahmu. dan tak perlu kau tau kapan itu.
s'bab waktu tiada lagi berguna. ia hanya terasa singkat saat kau pergi.
dan terasa abadi saat kulihat kau bahagia.
jika tuhan membiarkan setiap sudut bilik kampus berbicara, maka ia akan berkata bahwa aku gila, fa.

Fa, aku tak peduli seberapa besar angin berdesir. dan seberapa panas matahari memancar.
karena yang ku tau, rotasi bumi berhenti saat kau singgah di hatiku.

pernah, sekali, Fa, kau tak ada. aku resah, aku gelisah. aku kehilangan arah.
suatu waktu, aku terperangkap pada hati yang nestapa. itu tanpa kau, fa.
senja membawaku pada suatu kabar, kau milik nya, fa.

Fa, tak tertahan lagi rasa yang merumah ditubuhku. seolah ada cahaya yang memancar darinya. dan (mungkin) itu cinta. maafkan aku fa, kibas kembang api yang menandakan hari baru membuatku melepas kata itu kepadamu.

Fa, aku sayang kamu. aku tak pernah peduli apa rasa dihatimu kembar sepertiku. setidaknya aku terbebas dari ketakutanku untuk melepaskannya menuju hatimu.
ku kira, aku lega, fa. ternyata, tiada.
segala berubah, bumi diam, langit diam, awan-awan diam, mataku pun terdiam saat menyucurkan tangisnya, saat kau diam.

ku tulis sajak cinta dan berharap,
semoga apa yang ada dalam hatiku telah terungkap di hatimu, fa.
meskipun itu tanpa ungkapan.
sungguh, silahkan rasakan aku, fa. silahkan baca lirik rasa dalam hatiku.
semua mengalir serupa darah yang belum juga berhenti berjalan menyusuri lorong-lorong nadiku.
mengantar cinta dari ubun-ubun hingga kaki ku.
pun ia menyentuh dalam ruh ku, fa.
serupa langit, yang tak akan pernah lengkap bila hanya malam yang bersamanya.
dan hujan, tanpa suara rintik yang menyentuh atap-atap rumah.
pun aku seperti itu jika tanpamu.
sepenuh musim yang telah kita jalani bersama.
sepenuh cerita yang mengantar kita pada suatu hukum, yang mereka sebut--takdir.
lalu, sepenuh langit dan bumi.
kau mengantar aku pada satu ungkapan yang tak pernah tertuai dalam puisi-puisiku.
Fa, aku merindukanmu.


Fa, selalu ku cari-cari kabarmu. ku tunggu-tunggu tulisan yang mengungkap apa yang sedang kau fikirkan saat ini, fa. dan diam hanyalah yang aku akan dapatkan darimu.

Akankah diammu berarti ia? atau itu hanya ia di fikiranku saja? jika itu yang kau maksud, pagi ini aku berdo'a agar hati mengkosongkan dirinya dari namamu lagi. aku berhenti, fa. aku berhenti.

Malam ini aku ingin bercerita tentang hati.
aku kira dia telah berhasil menghapus namamu. 
bukannya hilang, bayangmu semakin nyata kini, fa. 
aku berharap sesegera angin membawa ingatanku tentangmu. 
atau, sesegera ia mengembalikanmu padaku.
  


Fa, ku ucap salam perpisahan pada namamu yang ada dihati ini. memang cinta adalah hal yang layak untuk diperjuangkan, Fa. namun menunggu adalah satu-satunya hal yang tak bisa dilakukan oleh cinta.

Fa, aku tak tau apakah hati ini bisa. namun saat ini aku hanya ingin ia berhenti mengingatmu.
Sebab aku tahu, takkan terbendung air mata ini 
menahan cinta yang berganti sakit, kemudian merumah di tubuhku. 
Aku takkan mencarimu.
lagi. 
Akan tetap diam bersama impian ku dulu,
dan tetap diam hingga mendapati diam yang berbeda. 
kau membuatku menyadari, Fa,
terlalu banyak bahu yang kita cari untuk bersandar.
padahal kita cuma butuh satu lantai untuk bersujud.
Terimakasih pernah ada, Fa
Terimakasih pernah ada.
Terimakasih pernah
ada.
Terimakasih
pernah
ada. 



-za-

Tuesday, 4 February 2014

Episode cinta #5


       Yuli. Adalah cewek manis berkulit sao matang. Yuli adalah pacar kedua gue. Dan lo tau mas & mbak bro, lagi-lagi pacar gue adalah bekas dari orang terdekat gue. Rengga adalah teman dekat gue sejak gue SD dulu. Kita selalu ngerjain tugas bareng, nyontek bareng, bahkan dihukum juga bareng. Pernah ada suatu kejadian, rengga di cium oleh bu Doer –sebutan kami untuk istri pak junaidi- karena gak bisa menuntaskan perkalian tujuh. Karena matematika adalah pelajaran yang keramat buat gue, jadi gue gak bisa ngasi contekan buat dia. Dan itu adalah hal yang paling memalukan buat rengga.
Awalnya gue kenal Yuli karena Yuli adalah sahabat sekaligus tetangga Shenna. Selain nongkrong di rumah Shenna, gue juga sering nongkrong di rumah Yuli. Jadi kita sudah gak saling canggung lagi satu sama lain. Malahan, kita bisa lebih dekat dari sebelumnya setelah jadian -ya iya lah, namanya juga pacaran-. Kita selalu telponan tiap hari. SMS-an juga. Sampai-sampai lupa waktu makan, minum. Tapi ada satu yang gak bisa gue lupain walaupun sedang asik-asiknya telponan atau sms-an sama yuli. Itu adalah waktu dimana gue sedang sakit perut dan pengen pupup. Itu yang gak bisa gue tahan sama sekali.
Sekedar anekhdot ditengah cerita gue :
Apa yang paling cepat di dunia...? | pasti mobil F1, cahaya (karena sekali di cetek saklar, lampu langsung hidup), suara, getaran | lo salah semua, yang paling cepat itu kalau orang sedang sakit perut dan pengen pupup. Karena dia gak butuh mobil F1, gak butuh cahaya, gak butuh suara, dan gak butuh getaran. Yang dia butuh cuma kloset doang.
Yuli sering banget cerita tentang pengalaman dia pacaran dengan rengga. Mulai dari kenalan, jalan bareng, sampai pengalaman –ya lo tau lah, anak muda-. Jangan ngeres dulu, itu pengalaman rekreasi di kolam renang doang. Semua tentang mereka di jadikan celoteh malam oleh Yuli. Dan itu membuat gue bosan. Gue mulai gerah dengan dia yang jadi-in gue sebagai (cuma) pendengar budiman atas semua cerita basi itu. Bagaimana gak basi, itu cerita kan udah dia lewati semua. Dan itu juga ga akan terjadi di hubungan kita. 36 kilometer terbentang di atas hubungan ini.
Hari dimana kita harus :
“sayang, aku mau bicara sesuatu, ini serius” ucap gue
“apa?” tanya Yuli
“Itu tentang hubungan kita”
“ada apa dengan hubungan kita? Ada yang salah?”
“se...” ucap ku gagap. gue takut ini menyakiti hatinya. Karena bukan gue jika gue harus menyakiti hati wanita.
“se... apaan, yang jelas dong ngomongnya, tadi katanya serius,?”
“sepertinya, kita... ga cocok deh” ucap gue pelan
“ga cocok gimana? Maksud kamu, mau putus gitu...?”
“aku ga ada maksud seperti itu, tapi sepertinya kamu ada benarnya juga. Aku mau kita putus”. Kata gue dengan serius. Namun yuli hanya tertawa.
“hahaha... aku udah menduga itu dari awal” jawab yuli sambil tertawa
“yaudah deh, kalau kamu maunya itu” sambungnya lagi sambil memutuskan panggilan telepon gue.
 putus adalah hari paling gak menyenangkan buat gue. Karena hari itu juga gue harus pulang ke kampung. Bukan karena kampungnya yang kumuh, padat, atau apalah namanya. Itu karena dikampung, gue harus jumpa dengan Rengga. Gue ngerasa bersalah banget karena udah nerima Yuli jadi pacar gue. Padahal rengga sangat mencintai Yuli. Terbesit di benak gue, “gue harus minta maaf ke rengga”. Dan gue langsung menjumpai dia. Ketika berjumpa dengan rengga, gue beranikan diri buat nanya ke dia. “ngga, boleh jujur?” tanya gue. “yaudah, jujur aja, lo mau bilang apa?”. Kaki gue tiba-tiba bergetar, dan dari pernyataannya itu, gue narik satu kesimpulan bahwa rengga gak tau apa yang udah gue lakuin. “gue... gue mau beli mata pancing ni, temeni yuk?”. Alibi gue mulai kambuh. “ooh, gue kira apaan tadi, yaudah, yuuk...”. dan hati gue berkata “amaaannn, ternyata rengga gak tau”. Persahabatan gue dan rengga hingga kini masih adem ayem tentrem. Dan soal Yuli, aahhh, itu cuma masalalu.

Monday, 3 February 2014

aku

 Oleh : Nuriza Auliatami


yang terang dan gelap adalah aku
yang jauh dan dekat adalah aku.
yang pergi dan pulang adalah aku
yang berbicara dan diam adalah aku.
yang benar dan salah adalah aku
yang baik dan buruk adalah aku
yang cinta dan benci adalah aku
yang ada dan tiada adalah aku.

aku hanyalah sebuah kehampaan tak berujung.
aku hanyalah sebuah keberadaan tak berujung.
aku berawal dan berakhir di titik.
aku ada kau tiada
kau ada aku tiada
kau aku ada
kau aku tiada
aku ada
kau ada
aku ada
aku ada.

jangan lirik, aku dibelakangmu.
lirik, aku dibelakangmu.

sekali waktu kau hanya akan dipusingkan dengan "aku dibelakangmu".
berkali waktu kau akan paham "aku ada dimana mata itu memandang"
pandanglah aku
pandanglah ak
pandanglah a
pandanglah
pandangla
pandangl
pandang
pandan
panda
pand
pan
pa
p
.
.
.
.
.
.
.
.
.

-za-

Sunday, 2 February 2014

episode cinta #4


      Cewek itu memang makhluk paling abstrak di dunia ini. gimana enggak, dalam waktu sepersekian detik, dia bisa berubah begitu aja. berubah jadi poweranger, spongebob, upin ipin, sampai berubah jadi ibu-ibu PKK. tapi itu yang membuat laki-laki menyukai seorang wanita. dan mungkin, itu sebabnya gue memulai cerita baru dengan Shenna. Gue gak tau nama panjangnya apa, yang gue tau cuma nama cewek bertubuh seksi itu adalah Shenna. Ada yang unik dari kedekatan gue dengan shenna. Awalnya, pada sabtu malam sepupu gue Pani mengajak gue buat main-main ke rumah pacarnya. Katanya ketimbang gue bengong dirumah, bagusan gue ikut dengan dia. Katanya lagi, disana banyak cewek cewek cantik berkeliaran di sekitar teras rumah pacacnya Pani. Dan lo tau mas bro, pacarnya Pani adalah Shenna.
“Hai sayang” sapa Pani sambil mengecup keningnya.
“Hai juga sayang, kamu apa kabar” jawab Shenna menggoda.
“ya seperti yang kamu lihat sayang” jawab Pani.
Diselah pembicaraan mereka, Shenna melirik ke arah gue. Dan gue yakin, lo juga tau gimana rasanya dilirik sama cewek bohai -mendiring bulu jaketku-. Ditambah lagi, dia nanya gini ke Pani “Cowok cakep mana tuh yang kamu bawa?”. Eeuuuhhh... rasanya mas bro, pengen gue guling-guling ditanah kesenangan dibilang cakep sama cewek bohai itu. Tapi gue tetap jaga gaya cool gue didepan dia.
“ini...? ohh, ini sepupu aku sayang. Tadi aku lihat dia bengong di rumah, jadi aku ajak aja kesini.”
“oohhh, yaudah, kok ga dikenalin ke aku sayang...?”
Aduh mas bro... ga bisa di ungkapkan dengan kata kata deh. –maaf ya mbak bro, urusan cowok, mbak bro duduk manis dengerin cerita kita aja dulu-. Apalagi waktu di kenalin ke gue, “hai, Shenna” tangannya itu lembut banget mas bro. jarang-jarang gue bisa megang tangan cewek selembut ini. Gue hanya bisa terdiam dan menikmati fantasi-fantasi yang hadir di awang-awang gue. “Takkkk” suara tepukan tangan Pani ke pundak gue.
“Udah dong, jangan lama-lama. Nanti naksir pula kau sama pacar aku” ucap Pani.
Gue cuma bisa terus senyum sambil melirik cewek-cewek yang sedang berkeliaran di teras rumah Shenna. Pani ga bohong, memang cewek-cewek disini pada cantik dan bohai semua. Tapi, jika di dikumpulin semua cewek disitu, tetap Shenna yang memegang peringkat satu atas penghargaan keseksian dan kebohaian yang dimilikinya.
Akhirnya setiap malam minggu, gue minta ikutan ke rumah Shenna untuk nyari pacar. Dan tetap, hati gue gak bisa bohong kalau gue tetap milih Shenna walau Shenna adalah pacar sepupu gue. Satu bulan penuh, malam minggu gue habiskan di rumah Shenna, dan gue gak nyangka bahwa ini akan berakhir tragis buat Pani. Mereka putus dengan masalah yang GAJE alias gak jelas tepat di minggu ke empat gue datang ke rumah Shenna. Awalnya gue nganggap ini adalah suatu musibah. Tapi tiga hari setelah mereka putus, Shenna langsung SMS gue. Dalam hati gue bertanya-tanya “ada apa si bohai sms gue”. Ternyata setelah gue buka, dia nyuruh gue datang ke rumahnya buat jadi teman curhatnya. Selama satu minggu gue jadi pendengar budiman pribadinya tanpa ada satu patahan kata yang ngebantah perkataan dia. Dan tepat di satu minggu dia curhat ke gue, gue langsung beranikan diri gue buat bilang “Shen, aku suka sama kamu”. Shenna tiba-tiba terdiam terpaku. Gue sangka dia bakalan marah ke gue karena gue lancang ngungkapin perasaan gue. Tapi dia malah jawab “ia, aku mau jadi pacar kamu”. Dalam hati gue bilang gini  “Ini cewek kapan gue nembak dia sih?”. Tapi gak masalah, memang ini maunya gue kok. Dan hari itu kita jadian, dia adalah pacar pertama gue. Beruntung banget rasanya dapat cewek bohai seperti dia. Tapi gue samasekali ga pernah ngelakuin apa-apa dengan dia –ngerti lah-. Paling hebat, Cuma pegang tangan doang. Tiap hari gue jumpa dengan dia di rumahnya, tanpa kenal waktu, cuaca, dan keadaan kantong. Tapi ini gak berlangsung lama. Gue harus ngelanjutin sekolah gue ke luar kota. Dan Shenna ngerespond baik niat gue untuk sekolah di luar kota. Dan kita sepakat buat ngejalanin yang namanya Long Distern Relationship yang biasa disebutin anak-anak muda LDR. Awal kita ngejalani hal itu terasa nyesek banget. Tapi seminggu-duaminggu kita mulai terbiasa dengan dunia baru kita masing-masing. Kita tetap menjalin hubungan ini dengan baik. Hingga bulan ke dua kita pacaran, gue dapat kabar bahwa dia sudah punya pacar baru disana. Itu lebih dari nyesek buat gue. Lo tau kan mas bro, mbak bro, gimana rasanya kalau kita punya pacar pertama, terus dia khianati kita lagi. Tapi gue udah kebal dengan yang namanya pengkhianatan. Gue juga gak mau kalah dengan Shenna. Diam-diam, gue juga udah ngelirik cewek baru di kota ini. Seminggu kemudian, gue terus buat kesalahan-kesalahan dengan melakukan hal-hal yang tidak disukai oleh Shenna supaya gue diputusin. Dan akhirnya dia minta putus. Itu terhormat banget buat gue mas bro, mbak bro. gue lebih memilih diputusin cewek daripada harus gue yang mutusin tu cewek. Karena gue tau, cewek itu kalau diputusin pasti sakit hatinya membekas banget. Gue tetap mau jaga perasaan cewek karena gue sadar, gue juga dilahirkan oleh seorang wanita juga. Jadi gue lebih memilih untuk disakiti daripada gue harus menyakiti. Itu adalah sesuatu hal yang bijak buat gue. Gue coba move on dari semua hal yang berkaitan dengan yang namanya Shenna. Termasuk ke-bohai-an. Dan gue mulai melirik tetangga gue di kota baru gue itu. Tapi itu semua gak berjalan dengan sempurna. Malah gue jadian sama...



to be continue...

Saturday, 1 February 2014

Episode Cinta #3


Jatuh cinta memang kadang terasa menyebalkan. Apalagi kalau itu sekedar cinta yang dialami oleh dua monyet tak berekor dengan pakaian putih merah. kita selalu jadi korban bully. mulai dari orang tua yang bilang : Eh, masih kecil...!
sampai orang-orang dewasa yang ngebully dengan cara yang menyakitkan : "Ciee, Cinta monyet"
apaan coba yang lucu. ini kan cinta, gak pernah memandang pada siapa dan kapan akan menyerang hati dengan virus merah jambunya. lagian, kita kan manusia, bukan monyet.

cinta memberikan gue banyak kisah. cinta juga mengajarkan gue bahwa gue pernah dibilang monyet. kalau di filmkan, mungkin judul film yang tepat adalah : CINTA DUA MONYET TAK BEREKOR.
dan cinta juga membuat gue memilih untuk melirik ke arah W
idya.
Widya Ramanda. Cewek manis anak seorang Komandan Polisi Hutan dengan lesung pipit di kedua pipinya, dan senyuman manis disetiap hari yang ia bawa ke kelas kami, 3-4. kelas ini adalah Kelas “Keramat” bagi para guru. Memang nasib gue kali ya mas bro, selalu terdampar di kelas yang angker. Sangkin angkernya, kami punya Kuntilanak Boneng yang duduk di sudut kelas. Kami menyebutnya dengan nama “Bebek”. Nama itu dinobatkan oleh sesepuh kelas kami, Rozi. Dia adalah siswa paling sok cool di kelas kami. Tapi, gue tetap salut terhadap prestasi yang dicapainya dibidang sepakbola.
Hari hari gue kembali seperti dulu. Gue kembali rajin datang ke sekolah, dan rajin belajar. Ini adalah efek positif yang selalu gue dapat kalau gue suka sama satu orang cewek di daerah sekolahan. Pendekatan gue dengan Widya juga udah makin-makin. Apa lagi setiap pembagian kelompok belajar, dia selalu milih kelompok gue. Semua hari gue terasa begitu indah, kecuali hari minggu. Karena pada hari minggu kita libur. Dan kita pasti ga bakalan jumpa. Jarak antara rumah gue dan rumah Widya itu seperti Bumi dan Matahari. Dan efek dari jauhnya jarak yang terbentang diantara kita adalah “GALAU”. Sumpah, Minggu adalah waktu yang paling ngebosenin buat gue. Gue Cuma bisa ngisi waktu minggu gue dengan menonton TV dengan siaran yang ga pernah jelas kemana arah ceritanya, seharian. Untung saja ada Doraemon yang selalu nemeni hari galau gue. Gue suka film doraemon karena gue selalu bisa ngebayangi kalau Nobita adalah Gue. Dia selalu galau seperti gue kalau udah hari minggu. Karena galaunya melebihi gue, jadi gue bias ngerasa sedikit nyaman dengan hari minggu. Tapi, kalau film nya udah selesai, gue kembali galau.
Suatu pagi di hari rabu, kami kedatangan teman baru di lingkungan kelas ini. Adalah Pratama Putra Atlanta, seorang cowok yang lumayan tampan, walau sebenarnya gue lebih tampan dari dia. Anak pindahan dari SMP Percontohan itu secara aktif berinteraksi dengan gue. Dan akhirnya, dia menjadi teman terdekat gue. Hari-hari yang indah ini kami jalani bersama. Main bersama, belajar bersama, bahkan nyontek bersama. Kami sahabat bagai kepompong, mengubah ulat menjadi kupu-kupu. Sampai suatu saat, dia ikut didalam kelompok belajar gue dan widya. Awalnya sih lancar, namun akhirnya, gue terbakar. Bukan, bukan terbakar api, tapi terbakar cemburu. Coba deh lo bayangin mas bro, kalau kita suka sama cewek, dekat, dan sedikit lagi hampir jadian, tapi teman dekat kita sendiri yang selalu bareng sama kita, menghianati kita. Emosi banget gue saat dengar tuh anak manggil widya dengan sebutan “sayang” di depan muka gue. Rasanya itu pengen gue mutilasi, terus gue jadiin sop daging cincang potongan tubuhnya itu. Tapi apalah daya tubuh ini, hanya bisa menerima keadaan dan pilihan yang dipilih oleh Widya. Gue Cuma bisa berdo’a semoga mereka tenang di alam nya. Gue tetap menjadi profesional sebagai teman dan sahabat mereka walaupun hati ini telah disakiti. rasa sakit mengajarkan gue untuk tidak menyakiti orang lain. karena sumpah men, itu sakit banget. melebihi sakitnya kalau hidung sedang terkena flu.
lagian, apa artinya dendam? toh widya nya juga gak bakalan ngelirik gue.cukup muove on, dan lakukan yang terbaik. apa susahnya coba move on?


to be continue...

Episeode cinta #2

#Episode Kedua
       Dia adalah Mentari. Cukup Mentari, namanya tak lebih dari itu. Mentari adalah seorang cewek anggun berkulit putih dan berkacamata dengan takaran -3 disetiap sisi matanya. Kacamata yang digunakannya itu menambah keyakinan atas diri gue bahwa dia benar-benar pintar. Dia adalah teman SMP gue sejak kami diterima di kelas 1-1 sampai akhirnya kita berpisah waktu kenaikan kelas. Gue masuk di kelas 2-4, sedangkan dia, masuk ke kelas 2-1, kelas inti. Bukan berarti masuk 2-4 gue ga pinter ya mas bro, mbak bro. Cuma saat itu mungkin taraf keberuntungan gue lagi berkurang. Jadi gue masuk di kelas angker. Para guru menyebut kelas kami sebagai kelas buangan. Karena didalamnya berkumpul 23 anak bandel, ditambah dua culun bahagia yaitu gue dan Ono Harto. Setelah tamat SD, kita berhasil masuk ke SMP favorit semua manusia setengah remaja alias anak SD yang lagi ngerayain tamatannya. Gue tamat dengan nilai diatas standart rata-rata.
Pertama masuk kelas, Cuma satu yang gue cari mas bro. “cewek cantik”. Dan yang pertama kali gue liat itu adalah Ramadhayani. Cewek yang ga cantik-cantik amat, tapi dia andalan para guru ketika dalam pelajaran matematika. Tapi, setelah lama gue mandangi Ramadhayani, gue ngerasa ada sesuatu yang ditutupi oleh tubuh padatnya. Waktu itu alibi gue keluar tanpa kompromi. “Ramadhayani, kamu tadi dicariin sama senior. Katanya sih, kakak kelas kamu waktu di SD sih.” Ucap gue santai, sambil menunggu reaksi dari ramadhayani buat pindah dari tempat duduknya.
“siapa za? Sekarang dimana dia?” jawabnya penasaran.
Dalam hati gue bilang gini. “ yess, berhasil-berhasil-berhasil horee...!” sambil pake gaya dora ngerangkul monyetnya Boots. “tadi diluar, samperin gih” ucap gue semangat.
Tanpa sabar, tubuh ini bergetar seperti pesawat ketabrak awan mas bro, mbak bro. dalam hati, gue ngitung kepergian ramadhayani ke luar kelas. Target gue sih, hitungannya Cuma sampe 10. Tapi, dia baru keluar dari kelas setelah hitungan gue yang ke 999. tapi ga apa-apa. Akhirnya penantian panjang gue buat ngeliat siapa yang di belakang tubuh gede ramadhayani terjawab sudah. Dia adalah bidadari pagi yang berbulu kacamata lentik. Eh, maksud gue berbulu mata lentik dan berkacamata. Kulit nya itu mas bro, eeeuuuhhh, kalau kata temen gue, Iqbal ni ya, sembriwinggg... nampaknya lembut banget. Gue terus terusan terkagum melihat wajahnya yang ayu. Sampai-sampai, gue ga sadar kalau semua teman-teman ditambah pak guntur, guru geografi sekaligus walikelas sedang memperhatikan gue yang sedang memperhatikan mentari. “tookkk”. Tiba-tiba pengamatan dan khayalan gue tentang dia buyar gitu aja. Seperti dihancurin di mesin penggiling padi dan dibalut dengan kue gulung buatan mamanya helmi, ketua kelas kami. Gimana ga buyar coba, penghapus punya pak guntur tiba-tiba mentok di kepala gue. Dan akhirnya, kepala gue ditumbuhi gunung sebiji. Gue namai itu sebagai Gunung guntur. Karena, yang nyiptain gunung di kepala gue itu pak guntur. Rasanya itu mas bro, mbak bro, ga kebayang deh. Coba aja pada saat itu gue dibolehin untuk ngebalas semua jasa-jasa pak guntur dalam membuat gunung di kepala gue, pasti gue bakal ngasi lebih untuk dia. Tapi gue tetap ingat, gue harus menghargai dia sebagai guru gue. Walaupun berkali-kali, tangannya yang sebesar pisang raja digoreng dan penghapusnya yang mengunakan kecepatan suara tercepat didunia sering mampir di kepala gue. Gue tetap ngasi pengertian gue ke dia, yang notabenenya, dia adalah guru favorit Mentari. Kalau aja bukan karena dia, udah gue pites tu orang kaya kutu. Dan kalau aja pak guntur juga ngerasain apa yang gue rasain terhadap Mentari, pasti dia bakalan nangis, terharu, minta maaf ke gue sambil ngomong “Ampun tuann”. Tapi semua kejadian itu ga sia-sia. Bener kata pepatah, “setiap kejadian yang kita alami itu pasti menuai hikmah dibaliknya”. Dan hikmah yang gue dapat dari kejadian itu ialah, gue bisa ngelihat Mentari tersenyum kepada gue. Itu sebuah taste awal yang ga mungkin bisa gue lupain. Dan senyuman itu gue jadiin spirit buat gue biar bisa semangat belajar. Alhasil, tiap pagi, gue adalah orang pertama yang datang ke sekolah. Pertama banget. Sampai-sampai, jangkrik masih belum siap nyingkirin suara anggunnya untuk ngelepas malam.
suatu hari, pada bulan Agustus tanggal 8 tahun 2006, sekolah kami mengadakan berbagai macam perlombaan untuk menyambut hari kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus. Mulai dari lomba main kelereng, main karet, sampai lomba makan kerupuk juga di adakan di sekolah kami. Gue adalah salah satu peserta dari perlombaan yang diadakan oleh pihak sekolah. Main kelereng? Bukan, main karet? Bukan, makan kerupuk? Bukan juga. Gue ngikutin lomba yang lebih berkelas dari itu. Lomba melukis. Gue perwakilan dari kelas 1-1 buat ngikuti lomba ini. Awalnya gue juga ga mau. Malah, sedikitpun ga punya minat buat ngikutin lomba-lomba yang begituan. Tapi, karena dipaksa oleh bidadari pagi gue, akhirnya gue maksain diri buat ngikutin lomba itu. Dia adalah sumber inspirasi gue. Gue ngelukis sedemikian indahnya cuma karena dia. Hari itu dia adalah segalanya buat gue. Dan hari itu juga.... dia membuat hati gue hancur, pecah, dan berserakan dimana-mana. Waktu gue ngelihat dia lagi mensupport dari kejauhan, tiba-tiba, datang seorang laki-laki yang mendekati dia. Dan lo tau mas bro, dia adalah pacarnya Mentari. Coba deh lo bayangin gimana rasanya jadi gue. Gue sedih, hancur, galau, sampai-sampai lukisan gue yang semula adalah lukisan terbagus, menjelma menjadi coretan sampah. Dan akhirnya, gue dapet repetan dari ramadhayani.
Berhari-hari gue jalani hidup gue, dan mencoba bertahan dengan rekor “orang tercepat” yang datang ke sekolahan, namun akhirnya, gue kalah dengan rasa galau. Gue jadi datang paling lama, paling malas belajar, dan paling ga mau keluar kelas. Kehidupan culun gue kini semakin bertambah tarafnya. Gue jadi kuper dan kudet tentang informasi-informasi yang ada disekolah. Tapi ini ga berlangsung lama. Badai galau Cuma melanda hari-hari gue selama satu tahun. Setelah moment kenaikan kelas, gue langsung bisa Move on dari Mentari, sang bidadari kelam gue. Gue langsung bisa melirik bidadari baru. Dan dia adalah..............



to be continue...