Sunday, 27 July 2014

setialah padaku.

RSUD Aceh Tamiang, 22 Mei 2014.
Nuriza Auliatami


Tuhanku.
jika ini akhir waktuku.
kumau kau tak cari teman baru untuk menemanimu bercumbu.
umurku sudah diwaktu Maghrib.
sebentar lagi Isya.
dan hari baru akan kau cipta.
tapi jangan kekasih baru!
cemburu aku!

Wednesday, 23 July 2014

Sang Perajut : kepada Alm. H. Amirsyah Siregar (Papa Fredie Arsi)



Oleh : Nuriza Auliatami

Selamat malam untuk kau yang sedang tenang bersama Tuhan, Pa. 
Aku ingin kabarkan, Baru saja, kami melakoni hal yang kau cintai.
Musikalisasi puisi.

Pa, tak sempat aku lihat wajahmu.

Kendatipun, cinta yang kau tinggalkan sudah lebih dari cukup bagiku.

Sebab dengan cintamu, Pa

Kagum merasuki jiwa pepasir dipantai ; tak tau jumlahnya berapa.

Aduh, Pa-

Telat aku. Seharusnya kabar ini ku sampaikan 20 Juli lalu.

Saat dunia bersuka menyambut sang perajut. 
Adalah hati-hati pecinta yang kau rajut dengan cinta, pula.

Pa, tiga ramadhan sudah.

Kau dipangkuan Tuhan.

Tanpamu,

Aku seperti memuja malam tanpa bintang, sekarang!

Dan aku, tak lebih dari aku yang aku.

tapi, apalagi yang lidah hendak silatkan?

Cinta Tuhan kepadamu selalu lebih sejengkal---dari kami.


Kualasimpang, Aceh Tamiang, 23 Juli 2014.

Surat Untuk Tuhan

Oleh : Nuriza Auliatami

Hei, Tuhan!
rumah-rumah ibadah dijadikan mereka sebagai rumah untuk-Mu bukan?
ku tengok, ia roboh satu-satu.
apakah Kau akan jadi gelandangan, kemudian...?
ya sudah,
begini saja.
kita sepakati, Kau merumahlah di Hatiku.
karena, Untukmu, ini masih cukup lapang.
Maha Lapang, Bahkan.



# Pelabuhan Merak, 20 Juli 2014.

Thursday, 6 February 2014

Surat usang untuk Fa #2

Fa, langit sore tadi memerah muda. bibirku melebar beberapa senti. kupandangi itu, selalu. aku melihat keindahan yang tak lebih didalamnya ada kau, Fa. sekali pandang, aku terbayang. duakali pandang, aku sayang. tigakali kupandang, aku melayang.
berkali kupandang, makin melayang. terakhir ku pandang, ia menghilang.

aku terjebak pada lamunan tentangmu, Fa.
dan terus kuhitung mundur waktu. sepuluh saat, sembilan saat, delapan saat, tujuh saat, enam saat, lima saat, empat saat, tiga saat, dua saat, sesaat, kosong. dan kumbang-kumbang kehabisan taman untuk bersuka.
aku saat ini hanya menunggu kau mati dihatiku, Fa. s'bab aku (mungkin) tak pernah hidup dihatimu.

kemudian teringat tentang rasa yang, entah telah berhasil aku menghapusnya.
seperti langit tadi, yang menghapus cahaya. kemudian biarkan gelap menjadi selimut.

ya, kurasa aku ingin jadi langit saja, Fa. karena ia bisa menghapus pigura merah muda senja, sesukanya. toh, besok pigura itu bisa datang lagi.

tapi kelihatannya harapanku adalah harapan. dan hati membiarkan waktu yang tak bermulut menjawab seberapa besar keuntungan dari penantian.
jangan beri aku diam, Fa. karena gelisah adalah yang aku dapatkan. dan kau tau, keresahan adalah neraka yang tak berujung. bagiku.

aku tunggu, Fa. pesan singkat darimu. nomor rumah ku masih yang dulu.
"sembilan puluh juta enam ratus dua puluh tujuh ribu seratus tiga puluh lima."
ku harap itu berisi kembaran perasaanku. atau kuharap, tidak sama sekali, tiada.


-za-

Wednesday, 5 February 2014

Surat usang untuk Fa.

Oleh : Nuriza Auliatami

Fa, kutulis ini dalam catatan usang milikku.
tentang kisah kita. saat bertemu di mushalla.
aku sungguh tak mengenalimu, fa. sungguh.
sebelum ku beranikan diri untuk berkenalan denganmu. aku benar tak mengenal dirimu sebelumnya.
tetapi vibrasi yang kau pancarkan seolah mengatakan kau adalah orang yang akan mengisi kotak ke enamku, fa.
saat itu suasana runyam. beberapa mahasiswa menjerit histeris. entah, akupun tak tau mengapa.
kutanya padamu, fa, apa kau mengenal mereka? dan jawabmu, tidak.
itu semua hanya alibi yang tercipta dari dorongan keinginan hati untuk mendengar suaramu pertama kali.

Fa, setiap hari ku intip-intip gerakmu. senyummu, tangismu, marahmu. dan tak perlu kau tau kapan itu.
s'bab waktu tiada lagi berguna. ia hanya terasa singkat saat kau pergi.
dan terasa abadi saat kulihat kau bahagia.
jika tuhan membiarkan setiap sudut bilik kampus berbicara, maka ia akan berkata bahwa aku gila, fa.

Fa, aku tak peduli seberapa besar angin berdesir. dan seberapa panas matahari memancar.
karena yang ku tau, rotasi bumi berhenti saat kau singgah di hatiku.

pernah, sekali, Fa, kau tak ada. aku resah, aku gelisah. aku kehilangan arah.
suatu waktu, aku terperangkap pada hati yang nestapa. itu tanpa kau, fa.
senja membawaku pada suatu kabar, kau milik nya, fa.

Fa, tak tertahan lagi rasa yang merumah ditubuhku. seolah ada cahaya yang memancar darinya. dan (mungkin) itu cinta. maafkan aku fa, kibas kembang api yang menandakan hari baru membuatku melepas kata itu kepadamu.

Fa, aku sayang kamu. aku tak pernah peduli apa rasa dihatimu kembar sepertiku. setidaknya aku terbebas dari ketakutanku untuk melepaskannya menuju hatimu.
ku kira, aku lega, fa. ternyata, tiada.
segala berubah, bumi diam, langit diam, awan-awan diam, mataku pun terdiam saat menyucurkan tangisnya, saat kau diam.

ku tulis sajak cinta dan berharap,
semoga apa yang ada dalam hatiku telah terungkap di hatimu, fa.
meskipun itu tanpa ungkapan.
sungguh, silahkan rasakan aku, fa. silahkan baca lirik rasa dalam hatiku.
semua mengalir serupa darah yang belum juga berhenti berjalan menyusuri lorong-lorong nadiku.
mengantar cinta dari ubun-ubun hingga kaki ku.
pun ia menyentuh dalam ruh ku, fa.
serupa langit, yang tak akan pernah lengkap bila hanya malam yang bersamanya.
dan hujan, tanpa suara rintik yang menyentuh atap-atap rumah.
pun aku seperti itu jika tanpamu.
sepenuh musim yang telah kita jalani bersama.
sepenuh cerita yang mengantar kita pada suatu hukum, yang mereka sebut--takdir.
lalu, sepenuh langit dan bumi.
kau mengantar aku pada satu ungkapan yang tak pernah tertuai dalam puisi-puisiku.
Fa, aku merindukanmu.


Fa, selalu ku cari-cari kabarmu. ku tunggu-tunggu tulisan yang mengungkap apa yang sedang kau fikirkan saat ini, fa. dan diam hanyalah yang aku akan dapatkan darimu.

Akankah diammu berarti ia? atau itu hanya ia di fikiranku saja? jika itu yang kau maksud, pagi ini aku berdo'a agar hati mengkosongkan dirinya dari namamu lagi. aku berhenti, fa. aku berhenti.

Malam ini aku ingin bercerita tentang hati.
aku kira dia telah berhasil menghapus namamu. 
bukannya hilang, bayangmu semakin nyata kini, fa. 
aku berharap sesegera angin membawa ingatanku tentangmu. 
atau, sesegera ia mengembalikanmu padaku.
  


Fa, ku ucap salam perpisahan pada namamu yang ada dihati ini. memang cinta adalah hal yang layak untuk diperjuangkan, Fa. namun menunggu adalah satu-satunya hal yang tak bisa dilakukan oleh cinta.

Fa, aku tak tau apakah hati ini bisa. namun saat ini aku hanya ingin ia berhenti mengingatmu.
Sebab aku tahu, takkan terbendung air mata ini 
menahan cinta yang berganti sakit, kemudian merumah di tubuhku. 
Aku takkan mencarimu.
lagi. 
Akan tetap diam bersama impian ku dulu,
dan tetap diam hingga mendapati diam yang berbeda. 
kau membuatku menyadari, Fa,
terlalu banyak bahu yang kita cari untuk bersandar.
padahal kita cuma butuh satu lantai untuk bersujud.
Terimakasih pernah ada, Fa
Terimakasih pernah ada.
Terimakasih pernah
ada.
Terimakasih
pernah
ada. 



-za-

Tuesday, 4 February 2014

Episode cinta #5


       Yuli. Adalah cewek manis berkulit sao matang. Yuli adalah pacar kedua gue. Dan lo tau mas & mbak bro, lagi-lagi pacar gue adalah bekas dari orang terdekat gue. Rengga adalah teman dekat gue sejak gue SD dulu. Kita selalu ngerjain tugas bareng, nyontek bareng, bahkan dihukum juga bareng. Pernah ada suatu kejadian, rengga di cium oleh bu Doer –sebutan kami untuk istri pak junaidi- karena gak bisa menuntaskan perkalian tujuh. Karena matematika adalah pelajaran yang keramat buat gue, jadi gue gak bisa ngasi contekan buat dia. Dan itu adalah hal yang paling memalukan buat rengga.
Awalnya gue kenal Yuli karena Yuli adalah sahabat sekaligus tetangga Shenna. Selain nongkrong di rumah Shenna, gue juga sering nongkrong di rumah Yuli. Jadi kita sudah gak saling canggung lagi satu sama lain. Malahan, kita bisa lebih dekat dari sebelumnya setelah jadian -ya iya lah, namanya juga pacaran-. Kita selalu telponan tiap hari. SMS-an juga. Sampai-sampai lupa waktu makan, minum. Tapi ada satu yang gak bisa gue lupain walaupun sedang asik-asiknya telponan atau sms-an sama yuli. Itu adalah waktu dimana gue sedang sakit perut dan pengen pupup. Itu yang gak bisa gue tahan sama sekali.
Sekedar anekhdot ditengah cerita gue :
Apa yang paling cepat di dunia...? | pasti mobil F1, cahaya (karena sekali di cetek saklar, lampu langsung hidup), suara, getaran | lo salah semua, yang paling cepat itu kalau orang sedang sakit perut dan pengen pupup. Karena dia gak butuh mobil F1, gak butuh cahaya, gak butuh suara, dan gak butuh getaran. Yang dia butuh cuma kloset doang.
Yuli sering banget cerita tentang pengalaman dia pacaran dengan rengga. Mulai dari kenalan, jalan bareng, sampai pengalaman –ya lo tau lah, anak muda-. Jangan ngeres dulu, itu pengalaman rekreasi di kolam renang doang. Semua tentang mereka di jadikan celoteh malam oleh Yuli. Dan itu membuat gue bosan. Gue mulai gerah dengan dia yang jadi-in gue sebagai (cuma) pendengar budiman atas semua cerita basi itu. Bagaimana gak basi, itu cerita kan udah dia lewati semua. Dan itu juga ga akan terjadi di hubungan kita. 36 kilometer terbentang di atas hubungan ini.
Hari dimana kita harus :
“sayang, aku mau bicara sesuatu, ini serius” ucap gue
“apa?” tanya Yuli
“Itu tentang hubungan kita”
“ada apa dengan hubungan kita? Ada yang salah?”
“se...” ucap ku gagap. gue takut ini menyakiti hatinya. Karena bukan gue jika gue harus menyakiti hati wanita.
“se... apaan, yang jelas dong ngomongnya, tadi katanya serius,?”
“sepertinya, kita... ga cocok deh” ucap gue pelan
“ga cocok gimana? Maksud kamu, mau putus gitu...?”
“aku ga ada maksud seperti itu, tapi sepertinya kamu ada benarnya juga. Aku mau kita putus”. Kata gue dengan serius. Namun yuli hanya tertawa.
“hahaha... aku udah menduga itu dari awal” jawab yuli sambil tertawa
“yaudah deh, kalau kamu maunya itu” sambungnya lagi sambil memutuskan panggilan telepon gue.
 putus adalah hari paling gak menyenangkan buat gue. Karena hari itu juga gue harus pulang ke kampung. Bukan karena kampungnya yang kumuh, padat, atau apalah namanya. Itu karena dikampung, gue harus jumpa dengan Rengga. Gue ngerasa bersalah banget karena udah nerima Yuli jadi pacar gue. Padahal rengga sangat mencintai Yuli. Terbesit di benak gue, “gue harus minta maaf ke rengga”. Dan gue langsung menjumpai dia. Ketika berjumpa dengan rengga, gue beranikan diri buat nanya ke dia. “ngga, boleh jujur?” tanya gue. “yaudah, jujur aja, lo mau bilang apa?”. Kaki gue tiba-tiba bergetar, dan dari pernyataannya itu, gue narik satu kesimpulan bahwa rengga gak tau apa yang udah gue lakuin. “gue... gue mau beli mata pancing ni, temeni yuk?”. Alibi gue mulai kambuh. “ooh, gue kira apaan tadi, yaudah, yuuk...”. dan hati gue berkata “amaaannn, ternyata rengga gak tau”. Persahabatan gue dan rengga hingga kini masih adem ayem tentrem. Dan soal Yuli, aahhh, itu cuma masalalu.

Monday, 3 February 2014

aku

 Oleh : Nuriza Auliatami


yang terang dan gelap adalah aku
yang jauh dan dekat adalah aku.
yang pergi dan pulang adalah aku
yang berbicara dan diam adalah aku.
yang benar dan salah adalah aku
yang baik dan buruk adalah aku
yang cinta dan benci adalah aku
yang ada dan tiada adalah aku.

aku hanyalah sebuah kehampaan tak berujung.
aku hanyalah sebuah keberadaan tak berujung.
aku berawal dan berakhir di titik.
aku ada kau tiada
kau ada aku tiada
kau aku ada
kau aku tiada
aku ada
kau ada
aku ada
aku ada.

jangan lirik, aku dibelakangmu.
lirik, aku dibelakangmu.

sekali waktu kau hanya akan dipusingkan dengan "aku dibelakangmu".
berkali waktu kau akan paham "aku ada dimana mata itu memandang"
pandanglah aku
pandanglah ak
pandanglah a
pandanglah
pandangla
pandangl
pandang
pandan
panda
pand
pan
pa
p
.
.
.
.
.
.
.
.
.

-za-