Saturday, 1 June 2013

Bidadari Kelam

Oleh: Nuriza Auliatami


Aku berdiri
anak anak menangis
lihat...!
ranting ranting tanpa daun menjulai keluar dari
jendela kaca retak, remuk
lihat...!
lihat aku
pekaaatt...
terselubung bara bara salju kemarahan
ada rusa rusa kutub menelan awan bercak kemerahan
gagal terbang, menghilang
dalam untaian angin, suram
tampaknya aku terbang, besar
hancur berhamburan
buliran api mendingin, panas
mengayun, mendayu
ada bidadari dengan wajah penuh jelaga menunggangi, hujan darah
gagal menghilang, terbang
dalam untaian suram,angin
tampaknya aku tenggelam, kecil
beku, menyatu
buliran api memanas,dingin
mengapung, menyelam
kira ku...

Friday, 31 May 2013

Selamat Ulang Tahun



Oleh : Nuriza Auliatami

Lihat...!
lilin itu menyala...
api nya terlihat sejuk...
bersahabat pada hari ini...

Lihat...!
dia berbinar 19...
sehingga 6935 hari telah genap...

Aaaahhh...
Paaraaah...

Bukan...!
bukan kau...
tapi aku...

Maaf...
tak ada rainbow cake...
tak ada blackforest...
tak ada bolu pandan...
tak ada semuanya...

Hanya ada tangisan ku di jauh kilo...
memanggilmu...
merambahmu...
merasamu...
menyentuhmu...
lewat angin malam di 00:00...
ternyanyiku...
terlantunku...
tersuaraku...
teriakku...
teriakku...
teriakku...

AAAAaaaakkkkhhhh....
awan hitam...!
serat debu...!
angin beku...!
terbangkan aku...!
terbangkan aku...!
terbangkan aku...!

terbangkan aku ke atas...
langit meneratas meninggalkan bumi...
genggam sang Antares dan 19 bintang...
Menyusun sang Lhyrid...
Menjadi Abjad...
Menjadi kata...
Menjadi kalimat Untuknya...

kembalikan lagi aku ke bumi...
tak ingin aku berlama disini...
aku tak diciptakan untuk menyendiri...

Turunkan Aku...
Turunkan Aku...
Turunkan Aku...
agar ku bawa Teropong hati...
mengarahkannya kepada api...
Api...
Api...
yang berkobar dibalik sang bintang mati...
memeluk hangat...
memeluk hangat pada sang hati...
memberi kecup...
dan berucap...
 "Selamat Ulang Tahun"

Tuesday, 28 May 2013

Satu


Oleh : Nuriza Auliatami

Dua...
aku melihat dua...
aku mendengar dua...
aku bercakap dua...

Dua...
aku tak butuh Dua...
itu berlebihan bagiku...
itu tak berguna bagiku...

karena Dua...
aaaakkkkhhhhh....
aku tak butuh....

hanya yang ku butuh...
satu...

Thursday, 2 May 2013

Hanya Bermimpi


Oleh : Nuriza Auliatami

lihat...!
dia yang berlari itu...
kurcaci-kurcaci tak berdosa...
namun sedang dikejar tentara dari neraka...
yang terus memaksa dan memaksa mereka lari dan pergi dari bahagia dan suka mereka...
dunia sepertinya bukan lagi tempat yang aman untuk mereka bermimpi...
sesaat, aku juga berhenti bermimpi seperti mereka...
namun, juga suram...
andai mereka juga mencoba merasakan apa yang dirasa mereka...
pasti tak ada lagi sifat aniaya...

aaahhh...
nampaknya aku sedang bermimpi...
dan cuma bermimpi...

mana mungkin dajjal menjadi malaikat...
apalagi nabi...
mana mungkin mereka bisa mengasihani, menghargai, mengasihi...
bukan atas nama agama...
bukan juga atas alasan apa-apa...
hanya sekedar rasa kemanusiaan...
menghapuskan tangga-tangga kasta...
itupun...
aku hanya bisa bermimpi...

aku hanya bisa bermimpi bahwa,
mimpiku tak lagi menjadi mimpi...
dia hidup,
hadir,
nyata...
dan tampaknya,
aku tetap hanya bermimpi...

Thursday, 28 February 2013

Selamat Tinggal

Oleh : Nuriza Auliatami

hari ini aku pergi...
dan mencoba berhenti...
menjalani kisah ku disini...
aku hanya membawa lirih disebelah kananku,
dan perih disebelah kiriku...
kembali mengurai kisah baru...
bukan si "penjual jambu"...
ini mungkin lebih keras, atau mudah-mudahan lembut...
serancu apapun hidupku nanti...
ingin ku pastikan, jika ku sanggup...
setiap keluh hidupku, hanya aku yang tau...
dan ku kira, kabarku pun tak lagi penting untuk difikirkan...
hah...!
apa peduli mu terhadapku...
siapa memangnya aku...
hanya si udik yang dekil...
putus harapannya...
yang cuma berani lari dari keadaan...
padahal bekal cuma rupiah seratus limapuluh ribu...
untuk ongkos saja sudah tigapuluh ribu...
belum makannya, biaya hidup, dan segala perlengkapan menuju mati yang entah berapa nomina lagi di kertas itu dibutuhkan...
tapi berani-beraninya bertekat pergi, dan kembali saat keberadaanku sudah dilupakan...
aku akan kembali,
ya, aku akan kembali...
untuk menghapus kisah ini...
agar tidak ber-reinkarnasi dan menjajaki kehidupan adikku kelak...
tak perlu dia yang merasakan...
cukup aku saja...
yang mengunyah kerikil kasar hidup ini...
yang akhirnya, hanya yang terucap...
selamat tinggal...

Tuesday, 26 February 2013

Hingga aku menjadi aku

Oleh : Nuriza Auliatami

malam...
waktu ini kau suram.
tak ada sedikit awan, apalagi bintang.
mengapa...?
kau bosan mendengar ceritaku...?
kau jenuh dengan setiap kata yang terukir kasar dari hatiku.
kau kelam di atas setiap dendang lagu mereka.
satu titik hangatpun tak kau beri untukku.
padahal ku butuhkan itu.
aku butuh kau.
untuk menemani setiap gores lirihku.
ingin ku bercerita tentang pahitnya dunia.
ya...
pahitnya dunia.

kau tau.
kelam nya setiap waktu ini.
waktu yang terpenuhi dengan setetes keringat bau.
terurai dalam setiap butir butir debu kotor bekas kaki sang bangsawan.
penguasa negeri ini.
kenapa aku harus tunduk kepada mereka.
siapa mereka.
seenaknya saja memerintahku.
yang aku adalah jejak sang kuasa.
berani sekali mereka memerintahku.
apa hak mereka atasku.
tanah ini bukan milik mereka.
selalu bilang setuju, dan tidak...!
tapi mereka memungut bayaran atas dua kata tak berguna itu.
membuat dinamika dalam negeri ini.
peraturan ini lah.
itu lah.
padahal apa...!
berat selalu dipikul atas keputusan mereka.
namun ringan hanya gerak bersama angin.
yang terus lalu dan berlalu.

 tangis darah membeludak keluar dari setiap diri yang tertindas.
seperti awan itu, yang mencair karna kerasnya cahaya matahari yang tak peduli akan rasa didalam perih.

kau bilang sudah merdeka...?
tidak...!
itu hanya kemerdekaan bersama Belanda.
Jepang, Portugis...!

aku tidak akan mengatakan ini sebuah kemerdekaan...!
ini bukan merdeka...!
tidak akan ada yang namanya merdeka.
sebelum nafasku belum jadi nafasku.

kau tau.
lirik pilu ini tak akan ada habisnya.
aku akan terus berteriak.
mengecam.
menggiring kehidupan.
hingga kudapat keabadian.
hingga aku adalah aku.
aku baru merdeka.
jika aku menjadi aku.
terserah jika kau bosan mendengarku.
karna jika ku mati, aku tak butuh kau lagi.
aku tak butuh kau lagi malam...!
jika kau merasa jemu dengan semua abjad perjuangan ini.

Tuesday, 12 February 2013

Cerita si penjual jambu

Oleh: Nuriza Auliatami  
teriak ku dalam hidup...
dengan nada sengau...
bercerita tentang perih...
anak yang berjualan jambu itu...
kini sudah tidak lagi tampak di mata...
aku rindu mendengar suara sengaunya...
yang selalu berceloteh tentang mahalnya harga hidup...
harus punya rupiah limaribu setiap pagi, siang, dan petang...
menghentikan nada kroncong brisik...
dari cacing cacing yang bergelumat dalam pangkal hati...
Tidak...!
dia belum pergi...
dia masih ada disini...
masih berpapah di muka bumi...
dan bercerita...
"habis sudah tempat ku bercerita...
habis sudah tempat ku bermanja...
yang ada, serasa tak pernah memanjakan...
aku hidup tanpa rasa manja...
aku hidup tanpa sikap manja...
aku hidup tanpa hidup...
aku hidup.
suram...!
aku masih hidup..."