Bagian kertas maya ini akan terasa begitu sederhana bila dipandang begitu saja. kosong, tak ada isi apa-apa. akan tetapi, penulis mengharapkan, pada kekosongan tersebut, terdapat banyak luang dan ruang yang mengikutsertakan cinta dan rahmat Tuhan alam semesta. halaman dalam dari kertas maya ini terdapat pada jejak maya yang memuat catatan perjalanan hidup melalui gambar dan catatan maya yang memuat perjalanan hidup melalui tulisan.
- Halaman Depan
- Catatan Maya
- http://artofza.blogspot.com/2015/02/catatan-maya.html
- 3. 'Aisyah bt.Abu Bakar
- 4. SAUDAH BINTI ZAMA'AH
- Jejak Maya
- 1. ANIMASI penampakan
- 2. Animasi POCONG, KUNTI... ........................................................dst.
- DAFTAR ISI
Tuesday, 12 February 2013
Monday, 4 February 2013
Kau, Guru Ku
Oleh : Nuriza Auliatami
Ku lihat,
ada sinar bulan yang sangat terang di setiap embun pagi.
menyinari ruang kelam.
dengan cahaya ikhlas hati.
pelbagai ilmu kau berikan.
ya, itu kau guru.
kau adalah terang dibalik gelapnya dunia.
kau kerangka pendobrak masadepan negeri.
pelopor kecerdasan dalam diri.
pewaris secuil sifat maha tau Tuhan.
Mereka terus mentertawakan dirimu.
tapi kau guru.
kau menjadikan semua ini sebagai keindahan yang abadi.
guru.
ceritamu dan kami mungkin akan segera berakhir disini.
tapi tidak untuk hati kami.
kau tetap penunjuk dibalik kebodohan kami.
kau gumpalan cahaya di dalam paparan opera Tuhan ini.
Wednesday, 30 January 2013
Tanyaku
Oleh : Nuriza Auliatami
Malam kelam terhantam kesunyian
cahaya larut akibat matahari yang sementara mendingin
bintang enggan menampakkan senyuman yang telah ia simpan selama ia bersembunyi beberapa waktu
di ancam kelam, bulan terpaksa berperang dengan kesepian
pedang kekuasaan kelam kini masih memacak di tanah surga
siapa yang akan menghapus keadaan suram penuh keheningan ini...?
Malam kelam terhantam kesunyian
cahaya larut akibat matahari yang sementara mendingin
bintang enggan menampakkan senyuman yang telah ia simpan selama ia bersembunyi beberapa waktu
di ancam kelam, bulan terpaksa berperang dengan kesepian
pedang kekuasaan kelam kini masih memacak di tanah surga
siapa yang akan menghapus keadaan suram penuh keheningan ini...?
Kami adalah Satu
Oleh : Nuriza Auliatami
Kami adalah jiwa jiwa yang bersatu tubuh.
berteman mesra dalam satu badan.
menyentuh lembut gardu cinta.
Kami adalah jiwa jiwa yang bersatu tubuh.
menyatu didalam air kesucian.
menebar kasih kepada alam.
berlandas garis kasih Tuhan.
Kami adalah jiwa jiwa yang bersatu tubuh.
selalu tersenyum terhadap cobaan.
tetap berdua didalam satu kesatuan.
"Jangan menangis jika dihina.
Lekas bangun kalau jatuh"
Adalah kalimat penguat jiwa jiwa kami
Kami adalah jiwa jiwa yang bersatu tubuh.
bersatu gerak, bersatu kata.
bersatu suara dalam dzikir cinta.
Kami adalah jiwa jiwa yang bersatu tubuh.
berteman mesra dalam satu badan.
menyentuh lembut gardu cinta.
Kami adalah jiwa jiwa yang bersatu tubuh.
menyatu didalam air kesucian.
menebar kasih kepada alam.
berlandas garis kasih Tuhan.
Kami adalah jiwa jiwa yang bersatu tubuh.
selalu tersenyum terhadap cobaan.
tetap berdua didalam satu kesatuan.
"Jangan menangis jika dihina.
Lekas bangun kalau jatuh"
Adalah kalimat penguat jiwa jiwa kami
Kami adalah jiwa jiwa yang bersatu tubuh.
bersatu gerak, bersatu kata.
bersatu suara dalam dzikir cinta.
Tuesday, 29 January 2013
Who am I...?
February, 9 2012
By Coretanku
Senja
yang tak di undang itu perlahan datang merenggut secercah cahaya dari
Matahari. Kebanyakan orang memanfaatkan waktu itu untuk beristirahat
sambil meminum secangkir kopi untuk mengembalikan stamina ditubuh
mereka, tetapi tidak semua orang memanfaatkannya untuk meminum secangkir kopi itu, banyak juga yang memanfaatkan waktu itu untuk berlari kearah
barat pantai Lhoknga, kota Banda Aceh hanya demi mendapatkan kepuasan
dengan melihat Matahari bersebunyi kearah lain dari Bumi ini. Aku masih
belum mengerti entah kepuasaan apa yang mereka dapatkan dari kejadian
itu. Bahkan aku terheran-heran melihat tingkah laku mereka yang
menyaksikan kejadian itu. Berbagai Ekspresi mulai dari senyum, tertawa,
bahkan ada yang menangis dan berteriak histeris ketika menyaksikan
kejadian itu di depan mata mereka. “Gila, cuma melihat hal seperti itu
mereka sampai menangis…? Sungguh aneh orang-orang itu” kata hatiku
sambil tersenyum sendiri.
Malam
mulai menghampiri bumi. Moment Sunset yg mereka anggap sangat indah
hilang begitu saja bersamaan dengan angin yang berhembus dari laut ke
daratan itu. Para Nelayan pun kembali kerumahnya masing-masing untuk
menghampiri keluarga kecil yang ditinggalkannya sejak malam kemarin. Aku
menikmati waktu malamku dengan ditemani sang pena yang di pinjamkan dan
buku yang cukup murah harganya untuk memfiktifkan semua yang terjadi
dihadapanku hari ini.Aku menuliskan satu cerita yang didalamnya
menjelaskan bahwa aku tidak mengetahui siapa aku, mengapa dan untuk apa
aku diciptakan. Sungguh semua itu adalah pertanyaan yang sangat-sangat
mengherankan untuk ku. Selama bertahun lamanya, Aku melangkah sendiri
didalam garis kesuraman yang aku tak tau kapan aku akan menjumpai cahaya
walaupun itu hanya setitik saja untuk ku menghapus kesuraman akan
diriku sendiri. Dengan sombongnya, aku menganggap bahwa aku telah
memiliki segalanya. Karena materi dan ilmu yang aku punya, dengan
sombongnya aku berkata, “Aku Kaya dan Aku orang Pintar. Jadi aku tak
meemrlukan siapapun didalam hidupku”.
Aku
berjalan menerjang angin nan mesra, sambil menuai sebuah cerita yang
tak akan ada habisnya kecuali sang pena telah kehabisan tinta untuk
melanjutkan cerita itu. Tubuh selalu terurai lembut ketika anak panah
pada arloji yang ada di kamarku mengarah ke angka 12 sebagai tanda hari
ini telah berakhir. Ku dapati sebuah mimpi nan meng-suramkan. Aku
menyaksikan aku tercambuk oleh diriku sendiri. Aku terkejut dan
terbangun dari kisah suram itu. Tubuhku tersentak ketika mendengar
diriku berkata, “Kau telah mendzalimi dirimu sendiri”.
Aku mulai merenungkan tentang
apa maksud dari semua ini. “Aku mendzalimi diriku sendiri…? Apa yang sebenarnya
terjadi…? Semua ini sungguh benar-benar gila.” Kata ku mengherankan. Pikiranku seolah
berputar seperti roda sepeda yang dikayuh dan terus dikayuh oleh pengendara
sepeda tersebut. Roda itu terkadang berputar secara perlahan, namun juga sering
kali berputar cepat, lebih cepat, bahkan sangat cepat. Semua ini diluar dari
kendaliku. Entah apa dan siapa yang membuat semua ini tak terkendali, aku pun
tidak mengetahuinya. Aku kembali melangkah dan terus mengayunkan kaki dan
tanganku mengikuti kemana arah angin akan tubuhku yang tampak rapi dengan pakaian
dan segala benda yang menghias tubuh indahku ini. Dengan dada yang membusung
tegak, aku kembali berkata “Aku lah yang terhebat”. Semua hanya bisa diam
ketika aku berbicara, namun tidak pada pada rerumputan. Mereka seolah
mencemoohkan aku dengan tarian yang disertakan irama lagu nan indah ketika
mendengar aku bertinggi hati. Mengapa…? Tanya ku. Lelah ku bertanya, tetapi
masih saja aku tak mendapatkan satu jawabanpun dari hal itu. Bermacam
pertanyaan yang tak terjawab olehku kini semakin bertambah dan menumpuk bagai
bongkahan emas yang tertimbun tanah yang ku tak tau sedalam mana harus ku gali
agar dapat mencapai bongkahan emas tersebut. Bel telah berbunyi. Ku dapati
semua murid memasuki kelas dengan tertib. Jum’at, waktunya pelajaran agama
islam. Di awal pelajaran, pak Muhammad Shabri, yang kerap kami panggil pak
Shabri mengawali pelajaran itu dengan mengucapkan “Bismillahirrahmanirrahim”
dan membaca shalawat. “Materi hari ini adalah awal agama islam” kata pak
Shabri. Aku yang bersikap acuh tak acuh padanya menjadi sorotan olehnya. Terus
menerus hanya aku yang di tanyai dan diminta bertanya. Aku merasa sombong akan
hal itu. Aku menganggap aku telah mengetahui semua. Aku merasa bahwa aku telah
mengetahui semua hal dari 1034 buku yang ku baca. Mulai dari dongeng hingga
karya ilmiah, aku menganggap semakin banyak buku yang aku baca maka aku akan
bertambah tau akan suatu perkara. Hal ini bertentangan dengan yang disampaikan
pak Shabri kepadaku. Dia mengatakan bahwa “semakin banyak buku yang kita baca,
maka semakin kita tau bahwasannya banyak hal yang belum kita ketahui”.
continue...
Walau Harus Bertempur di Singgasana Tuhan
Oleh : Nuriza Auliatami
Menapaki suramnya kehidupan
Mencari arti atas segala makna yang ada
Tak peduli itu ke timur atau ke barat
Ke Mars pun ia tempuh
demi menciptakan jiwa yang bahagia
tapi lolongan anjing terus terdengar seperti nada gamelan yang berantakan
menciptakan suasana kelam akibat semua khayalan
hanya saja mereka tak dengarkan
teriakan dari berbagai desakan
keluarkan aku dari sini
tempat ini penuh dengan bau sampah
dan segala jenis kotoran yang menjijikan
kuman kuman berserakan di setiap gedung yang menjulang
membuat Dia merasakan pahitnya perjalanan
MERDEKA…?
Hanya sebuah khayal untuknya
namun Dia tak pernah mengeluh
meskipun ter engah engah
anjing anjing itu merenggut semua yang seharusnya ia miliki
untunglah, mereka masih menyisakan selembar koran untuk dijadikan lepekan
sungguh malang nasibnya
bertahan dengan sisa sisa makanan
dan meminum air kobokan
sementara anjing anjing itu terus mencari korban
tanpa ada rasa belas kasihan
Dia terus berjalan
Menapaki suramnya kehidupan
Mencari arti atas segala makna yang ada
Tak peduli itu ke timur atau ke barat
Ke Mars pun ia tempuh
Demi menciptakan jiwa yang bahagia
Walau harus bertempur di singgasana tuhan
skenario Tuhan (Muak melihat tingkah kalian)
Kekacauan, Kebaikan, Keburukan, Kesantunan, Kesendirian, Keramaian, dan Kera-Kera yang bergelantungan...
Banyak yang mengakui bahwa Itu semua hanya skenario Tuhan...
Namun Realisasinya apa...?
kenyataannya pada saat ini,
Melihat Orang Berbuat salah saja makin kita hina...
melihat Orang Berbuat baik, Orang itu yang Kita Puji-Puji dan Sanjung-Sanjung...
Kenapa Tidak Tuhan saja yg Kita puji dan sanjung atas Skenario Unik yg Dia Ciptakan Ini...?
Keinginan kita adalah Sir dari Tuhan...
Sedangkan Gerak Kita adalah Hasil dari Sir yg menjadi Kehendak, dan Kehendak itu adalah Skenario Nyata dari Tuhan...
Masih beranikah kita Mengeluh terhadap Apa yg terjadi di Hadapan Kita seandainya Kita Benar-Benar Mengimani bahwa Ini semua hanyalah skenario Tuhan...?
Banyak yang mengakui bahwa Itu semua hanya skenario Tuhan...
Namun Realisasinya apa...?
kenyataannya pada saat ini,
Melihat Orang Berbuat salah saja makin kita hina...
melihat Orang Berbuat baik, Orang itu yang Kita Puji-Puji dan Sanjung-Sanjung...
Kenapa Tidak Tuhan saja yg Kita puji dan sanjung atas Skenario Unik yg Dia Ciptakan Ini...?
Keinginan kita adalah Sir dari Tuhan...
Sedangkan Gerak Kita adalah Hasil dari Sir yg menjadi Kehendak, dan Kehendak itu adalah Skenario Nyata dari Tuhan...
Masih beranikah kita Mengeluh terhadap Apa yg terjadi di Hadapan Kita seandainya Kita Benar-Benar Mengimani bahwa Ini semua hanyalah skenario Tuhan...?
Subscribe to:
Posts (Atom)

